PROSUMUT – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9–5,7 persen pada 2026. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, tetapi berbagai sumber pertumbuhan perlu terus dioptimalkan.
“Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Kondisi ini didukung berbagai stimulus fiskal pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen,” kata Gubernur BI Destry Damayanti saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia secara online pada Rabu 23 September 2026.
Selain konsumsi, lanjut Destry, investasi juga masih tumbuh dengan baik, terutama ditopang oleh investasi pemerintah. Namun, peran investasi swasta dinilai masih perlu terus ditingkatkan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat sejalan dengan naiknya permintaan dari sejumlah negara. Meski demikian, berbagai upaya masih perlu diperkuat untuk mengoptimalkan dampak kenaikan harga komoditas ekspor terhadap perekonomian nasional.
Ke depan, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Prospek ini ditopang pelaksanaan berbagai program stimulus pemerintah, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi, serta optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan.
BI juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran melalui sinergi dengan pemerintah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan,” ungkap Destry. (*)
Editor: M Idris

