Prosumut
Berita

FIFA Larang Pemakaian Gas Air Mata dalam Pengamanan, Kenapa Masih dipakai?

PROSUMUT – Polisi menggunakan gas air mata untuk meredam aksi anarkis suporter yang rusuh di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai laga Arema FC dan Persebaya. Dalam aturan FIFA, penggunaan gas untuk mengendalikan massa dilarang.
Larangan penggunaan gas air mata tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Pada pasal 19 b) tertulis, ‘No firearms or “crowd control gas” shall be carried or used’. Bunyi aturan ini intinya senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang dibawa serta digunakan.

Penggunaan gas air mata oleh polisi dalam kerusuhan di Kanjuruhan bermula saat para suporter Arema menyerbu lapangan usai timnya kalah melawan Persebaya. Banyaknya suporter yang menyerbu lapangan dan disebut sudah anarkis, direspons polisi dengan menghalau dan menembakkan gas air mata. Tembakan gas air mata tersebut membuat para suporter panik, berlarian, dan terinjak-injak.

BACA JUGA:  Gandeng KI Sumut, BPJS Kesehatan Medan Bahas Peran Media dan Keterbukaan Informasi

Alasan Polisi Pakai Gas Air Mata
Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta menjelaskan alasan anggotanya menggunakan gas air mata untuk mengendalikan suporter Arema FC yang turun ke tengah lapangan karena merasa kecewa usai timnya kalah. Nico menyebut suporter Arema telah bertindak anarkis dengan menyerang petugas, merusak stadion hingga berusaha mencari para pemain dan official Arema FC.

BACA JUGA:  Gandeng KI Sumut, BPJS Kesehatan Medan Bahas Peran Media dan Keterbukaan Informasi

“Oleh karena pengamanan melakukan upaya-upaya pencegahan dan melakukan pengalihan supaya mereka tidak masuk ke dalam lapangan mengincar para pemain,” kata Nico dalam konferensi pers di Polres Malang, Minggu (2/10/2022).

“Dalam prosesnya itu untuk melakukan upaya-upaya pencegahan sampai dilakukan (penembakan) gas air mata karena sudah anarkis, sudah menyerang petugas, merusak mobil, dan akhirnya kena gas air mata,” tambahnya.

Setelah polisi menembakkan gas air mata, para suporter itu berhamburan ke satu titik keluar stadion. Saat itulah terjadi penumpukan suporter hingga kekurangan oksigen
Nico menjelaskan kerusuhan itu menewaskan 127 orang. Dua di antaranya anggota polisi dan 125 orang suporter Arema.

BACA JUGA:  Gandeng KI Sumut, BPJS Kesehatan Medan Bahas Peran Media dan Keterbukaan Informasi

“Yang meninggal di stadion ada 34 kemudian yang lain meninggal di rumah sakit pada saat upaya proses pertolongan,” katanya.

Tak hanya itu, ada 180 korban luka-luka masih dirawat di rumah sakit. Ada juga 13 mobil yang disebut dirusak massa suporter Arema.

“Kemudian masih ada 180 orang yang masih dalam proses perawatan,” imbuhnya.(*)

Editor : Ronny Sitorus

Sumber : detik.com

Konten Terkait

Jokowi Tinggalkan KTT APEC Demi Hadir di Muktamar Muhammadiyah

Perbaikan Jalan Amblas Diproyeksikan Oktober 2026

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Cerdas Hadapi Tantangan Hoaks Jelang Pemilu 2024

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Rayakan HUT ke-10, PS Nafiri HKBP UAS Medan Kunjungan Kasih ke Perkampungan Bibelvrouw Pensiun HKBP Eben Eser

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Pemkab Pakpak Bharat Selenggarakan Lomba Permainan Tradisional Suku Pakpak

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Jangan Terlalu Banyak Regulasi, Korban Banjir Butuh Cepat Bantuan

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara