Prosumut
Ekonomi

Konflik AS-Iran Mereda, Harga CPO Kembali Turun

PROSUMUT – Kinerja harga Cruide Palm Oil (CPO) kembali turun, setelah sebelumnya harga CPO berada di atas 3.000 ringgit per tonnya. Bahkan disaat terjadi serangan Iran ke sejumlah basis AS di Irak, harga CPO sempat diperdagangkan di atas 3.100 ringgit per tonnya.

“Akan tetapi, saat ini harga CPO sudah kembali turun. Harga CPO terkoreksi dikisaran 2.900 ringgit per ton untuk pengiriman bulan Februari mendatang,” ungkap pengamat ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Gunawan Benjamin, Jumat 17 Januari 2020.

Menurut Gunawan, sentimen penurunan harga CPO tidak terlpas dari penurunan harga minyak mentah dunia.

BACA JUGA:  Satgas Nataru 2025/2026 Berakhir, Pertamina Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir

Sebelumnya saat terjadi masalah antara AS dengan Iran, harga minyak dunia jenis WTI sempat berada di atas $ 63 per barel, bahkan menyentuh $ 65 per barel. Kala itu, harga CPO sempat bertengger dikisaran 3.100-an ringgit per tonnya.

Namun, saat ini harga minyak mentah dunia kembali turun dikisaran $ 58 per barel. Seiring dengan meredanya masalah AS-Iran.

Hal ini pun mengakibatkan terjadi penurunan pada harga komoditas dunia lainnya termasuk CPO. Sementara itu, kisruh antara India dan Malaysia yang berujung pada aksi balasan India yang memboikot sawit Malaysia, akan menguntungkan Indonesia.

“Meskipun sulit untuk mengharapkan harga CPO untuk kembali naik di atas 3.100 ringgit, jika hanya mengandalkan sentimen perang dagang antara Malaysia dengan India. Karena, isu ini sudah lama bergulir, dan sebelumnya sempat mengerek harga CPO hingga ke level 2.600 ringgit per ton, dari sebelumnya dikisaran 2.300 ringgit per tonnya. Sehingga, saya berkesimpulan isu ini tidak akan mendobrak kenaikan harga untuk saat ini,” sebut Gunawan.

BACA JUGA:  Texas Chicken Buka Gerai Baru di Delipark Mall Medan

Kata dia, penurunan harga CPO belakangan ini juga tidak terlepas dari sikap tidak percayanya pelaku pasar terhadap kesepakatan dagang tahap pertama antara AS dengan Cina, dimana keduanya masih menunjukkan sikap permusuhan.

Cina menyatakan perang yang lebih besar terhadap AS setelah kesepakatan tahap I ini ditandatangani.

BACA JUGA:  BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara

Sementara itu, AS juga menyatakan akan kembali membicarakan kesepakatan dagang tahap II dengan Cina, dimana AS tidak akan menurunkan tarif ke Cina setidaknya hingga November mendatang.

Sikap ini menunjukan masih adanya permusuhan, ditambah lagi masalah geopolitik yang bisa saja mencuat kapanpun.

“Saya melihat di tahun 2020 ini, CPO harganya berpeluang bertahan mahal, dan bisa kembali naik seandainya kondisi di banyak negara seperti konflik kembali mencuat. Masih ada banyak ketidakpastian yang membuat harga CPO bisa kembali naik nantinya. Musim panen memang bisa memicu penurunan, tetapi perang dagang antara India-Malaysia akan mengkompensasinya,” tandas Gunawan. (*)

Konten Terkait

Februari 2021, Sumut Deflasi 0,35 Persen

Editor Prosumut.com

Sofyan Tan: Sensus Ekonomi 2026 Harus Jadi Titik Balik

Editor prosumut.com

PMP Sambangi Petani di Langkat, Dukung Ketahanan Pangan Presiden Prabowo

Editor prosumut.com

CMSE 2025 Usung Tema Pasar Modal untuk Rakyat, Satu Pasar Berjuta Peluang

Editor prosumut.com

Kinerja Telkomsel Melemah, Pendapatan Turun Rp 2,3 T

Editor prosumut.com

Indosat Apresiasi Gen Z Sumatra lewat Program Gen Tri Community

Editor prosumut.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara