Prosumut
Ekonomi

Harga Daging Bertahan Mahal, Ini Penyebabnya

PROSUMUT – Kenaikan harga daging babi yang sudah berlangsung sejak bulan November lalu masih bertahan mahal hingga saat ini.

Padahal, sejak wabah flu Afrika menyerang hewan ternak babi di Sumut akhir 2019 lalu, daging babi dijual dengan harga sangat murah karena masyarakat khawatir akan adanya virus yang menular, padahal sudah dipastikan aman dikonsumsi manusia.

Ketua Tim Pemantau Harga Bahan Pokok Sumatera Utara Gunawan Benjamin mengatakan, dari pantauannya di tingkat pedagang, banyak pedagang pengecer yang menjual daging babi dalam rentang harga Rp120  ribu hingga Rp130 ribu per kilogram (kg).

BACA JUGA:  Legilatif Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD Langkat 2025

Padahal, sebelum Flu Afrika menyerang, harga daging babi itu dijual dikisaran Rp50 ribu atau Rp60 ribu per kg nya. Dan untuk babi hidup, harga jualnya sebelum flu menyerang sekitar Rp25 ribu hingga Rp35 ribuan per kg.

“Kenaikan harga daging babi pasca Flu afrika yang membuat banyak babi mati sebelumnya, dikarenakan stok babi potong mengalami penurunan drastic, sehingga untuk mencari indukan sangat sulit. Di lain sisi, para pedagang juga tidak mau berlama-lama untuk menahan stok karena tergiur harga yang mahal. Jadi dibutuhkan sekitar 2 tahun lagi (asumsi paling lama) stok babi baru mencukupi dan harganya bisa berbalik turun,” ujar Gunawan Benjamin, Jumat 22 Januari 2021.

BACA JUGA:  Semester I-2026, Indosat Bukukan Pendapatan Rp30,7 Triliun

Menurut dia, dari pantauannya di kandang babi, juga ditemukan fakta kalau  stok di peternak juga masih bermasalah. Jumlah stok babi ada yang hanya 30 persen hingga 50 persen dari stok normal sebelum wabah menyerang. Sudah barang pasti konsumen dirugikan di situ.

“Nah ini jadi momen peternak yang dalam posisi mencari kuntungan, setelah sempat terpuruk di akhir tahun 2019 berlanjut hingga tahun pertengahan tahun 2020,” tambahnya.

Kenaikan harga daging babi ini sebenarnya sudah berlangsung lebih lama dibandingkan kenaikan harga daging ayam maupun sapi.

BACA JUGA:  Imigrasi Berkantor Di Langkat, Pemkab Proyeksikan Program

Namun ketika daging ayam maupun sapi serentak terganggu harganya. Harga daging babi juga melanjutkan tren kenaikan di situ.

Bahkan daging babi ini terbilang mengalami kenaikan yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga daging ayam maupun sapi. Bahkan temuan dari beberapa pagelaran pesta adat di Sumut memaksa sejumlah penyelenggara menggunakan daging ayam.

“Sumut membutuhkan indukan baru agar mampu mempercepat proses penambahan jumlah stok yang bisa mengurai akar masalah kenaikan harga itu sendiri,” tukasnya. (*)

 

Reporter : Rayyan Tarigan
Editor        : Iqbal Hrp
Foto            : 

Konten Terkait

Telkomsel Hadirkan Paket Data Roaming Untuk Orbit MiFi

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Pajak Progresif Tanah Tunggu Waktu, Aturannya Segera Disiapkan

valdesz

Pasar Modal Indonesia Optimis Lebih Baik di 2021

Editor Prosumut.com

Pertamina Sumbagut Bekali UMKM Binaan dengan Pelatihan Fotografi Produk

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Benarkah Harga Beras RI Lebih Mahal Dari Rata-Rata Harga Internasional?

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

BI Sumut Gelar Talkshow Pelindungan Konsumen dan Diseminasi Database Profil UMKM Potensial Dibiayai

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara