PROSUMUT – Sang pemilik konglomerasi Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja malam ini, Sabtu 26 Januari 2019 dikabarkan meninggal dunia sekitar pukul 19.43 WIB di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Managing Director Sinar Mas Group, Gandhi Sulistyanto melalui pesan singkatnya yang menyatakan bahwa jenazah salah satu orang terkaya di Indonesia ini akan disemayamkan di Rumah Duka Gatot Subroto, Jakarta.
Pria kelahiran Fujian, Tiongkok pada 27 Februari 1921 ini tutup usia di umur 98 tahun.
Di bawah pemerintah Orde Baru Eka ia berhasil mengembangkan diri menjadi salah satu konglomerat papan atas di Indonesia, seangkatan dengan Sudono Salim (Salim Group), dan Mochtar Riady (Lippo Group).
Sinar Mas Group kini berkembang menjadi kelompok bisnis raksasa, bukan hanya di Indonesia tapi juga berkembang di beberapa negara, termasuk Tiongkok.
Salah satu lokomotif bisnis Sinar Mas adalah Sinarmasland, yang telah berhasil mengembangkan properti di berbagai daerah di Indonesia.
Eka juga memiliki perkebunan kelapa sawit, pulp and paper, bank, asuransi, serta perusahan-perusahaan lainnya.
Dilahirkan dari keluarga miskin, Eka Tjipta berhasil membangun perusahaannya, Sinar Mas Group yang bergerak di berbagai sektor bisnis, mulai dari properti, perkebunan, industri pengolahan, hingga keuangan.
Dari bisnisnya tersebut, Eka Tjipta yang memiliki nama lahir Oei Ek Tjhong dinobatkan sebagai orang terkaya nomor dua di Indonesia oleh Globe Asia.
Kelompok Usaha Sinar Mas kini mempekerjakan lebih dari 300.00 karyawan, termasuk melaui Asia Pulp & Paper yang merupakan produsen pulp dan kertas terbesar kedua di dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, usaha Sinar Mas diwariskan dan bahkan kini mulai dikelola oleh genarasi ketiga.
Pilar-pilar bisnis Sinarmas saat ini dikendalikan oleh putra dan putri Eka Tjipta Widjaja dan istrinya mendiang Trinidewi, seperti Teguh Ganda Widjaya, Muktar, Indra, dan Franky Oesman Wijdaja.
Kelompok Usaha Sinar Mas merupakan salah satu konglomerat di Indonesia yang bisa lolos dari krisis moneter 1998, kendati sempat limbung dan kehilangan sejumlah perusahaan seperti PT Bank Internasional Indonesia Tbk yang kini berubah nama menjadi Maybank.
Pada 2018, aset kekayaannya tercatat sebesar USS13,9 miliar atau sekitar Rp201,5 triliun.. (*)