Golden Head atau si kepala emas menjadi predikat khusus ditabalkan kepada Ane Tum. Ya, panggilan akrab bagi Tumsila, satu diantara legenda sepekabola Medan-Sumatera Utara bersama PSMS dan bahkan Tim Nasional (PSSI). Memasuki usia 78 tahun, persisnya 18 Agustus 1948, kondisi ayah empat anak tersebut kini terbaring lemah melawan kanker prostat diderita setahun belakangan.
“Abang pasrah, abang sudah gak tahan lagi. Abang kelihatannya seperti bugar, tapi sebenarnya sudah gak kuat lagi,” lemah Tumsila ketika dikunjungi di Jalan Mongonsidi, Medan, akhir pekan kemarin.
Bersama penulis hadir dua sejawat Ane Tum, panggilan familiar khusus anak-anak Kebun Bunga home base PSMS di Jalan Candi Borobudur bagi Tumsila yang berarti abang, Suyud dan Amrustian menjenguk sekaligus memberikan semangat. Suyud rekan sekantor Ane Tum di Perpajakan sekaligus rekan setim di PS Perisai, maupun Amrustian selaku junior di PSMS sama-sama larut dalam kesedihan melihat kondisi sang legend.
Dalam kondisi terbaring lemah dan mengerang menahan rasa sakit, Ane Tum spontan menyapa ketika diberitahukan keluarga akan kehadiran kami bertiga. Secara berulang-ulang, Ane Tum memanggil kami satu persatu secara bergantian. “Yud, Amrus, Jie…, abang gak tahan lagi,” parau Ane Tum sambil berupaya menoleh ke arah kami.
Kendati terlihat kurus dan lemah, namun dengan semangat kuat seperti saat aktif bersepakbola, Ane Tum berupaya menggerak-gerakkan badan dari pembaringan menjelaskan sakit dialami. Gerakan tersebut, serasa membawa hayal bagaimana Ane Tum merobek jala gawang lewat kelincahan serta heading tajam sambil melompat diantara pemain bawah lawan.
Terbaring dengan balutan T Shirt dan celana pendek, Ane Tum mengakui tak miliki selera makan hanya ingin minum air dingin karena sering merasa kehausan. Bahkan, tak jarang keluarga membujuk memberikan bubur guna menjaga kestabilan kesehatan pemilik kepala emas yang disematkan Alm Mayjend Sarwo Edhie Wibowo seusai menjuarai Piala Aga Khan Gold Cup di Bangladesh tahun 1967.
Dalam sekejap, terbayang kenangan bersama rekan setim sesama anak Medan, Ane Tum pun mengkisahkan kedekatan dengan Sarman Panggabean dan Ronny Paslah di Timnas. Saat itu pula, Ane Tum menitikkan air mata, terkenang nostalgia naik becak bertiga dengan sejawat tersebut saat ikuti pemusatan latihan.
“Banyak kawan abang sudah gak ada (pergi). Waktu mendengar kabar Rony Pasla pergi, abang sedih kali sampai nangis. Sarman (Panggabean), dia -Rony Pasla- sudah gak ada. Kami bertiga sangat dekat, selalu naik becak bertiga kalau dipanggil ke timnas,” kisah Ane Tum bersama dua legenda lainnya sesama anak Medan.
“Abang rasanya sedih kali waktu tau Ronny meninggal. Kami gak bisa jumpa, abang sudah sakit. Dia (Ronny) nelpon abang, katanya sehatla kau jangan sakit ya. Gak lama kemudian, dikabari dia meninggal. Sedih kali abang. Abang, Ronny juga Sarman, kami tu dekat kali kalau setiap kali dipanggil PSSI,” parau Ane Tum tampak menitikan air mata.
Kedigjayaan pemilik kepala emas ini dimulai dari merebut Piala Perserikatan PSSI bersama PSMS Medan untuk pertama kalinya di tahun 1967 dilanjutkan dengan merebut juara di turnamen Aga Khan Gold Cup Bangladesh, lewat dua tandukkan sang maestro heading ini meruntuhkan klub Muhammadan di final.
Tumsila langsung meroket setelah membawa PSMS Junior juara Piala Soeratin medio 1966-1967, seketika dipercaya bergabung tim senior Ayam Kinantan yang sebelumnya dijuluki The Killer karena kebuasan menaklukkan tim-tim besar dalam maupun luar negeri di level kompetisi maupun turnamen.
Golden Head tersebut kini berjuang melawan kanker prostat yang merasuki tubuh setahun belakangan. Berbagai upaya medis hingga ke luar negeri pun ditempuhi guna melawan serangan penyakit yang diprediksi menjalari organ tubuh. Lompatan sekaligus sundulan yang merepotkan lawan sampai mengukuhkan PSMS pemilik gelar abadi PSSI di Perserikatan 1967, 1969, dan 1971, terbaring lemah memprihatinkan hingga tak mampu duduk apalagi berdiri hingga berjalan.
Kendati mendengarkan erangan memilukan Ane Tum, namun tak menyusutkan ingatan akan akselerasi ganas atau tajamnya tandukan pegawai Kantor Pajak ini menorehkan sembilan (9) gelar bersama PSMS bahkan PSSI. Memang sederet even seperti King’s Cup Thailand tahun 1969, Merdeka Tournament Malaysia di 1968, bahkan kala berbenturan dengan Patt Jennings penjaga gawang Stoke City klub liga Inggris di GBK pada 1976 hingga menghasilkan pertandingan draw 1-1 telah berlalu sekian dekade takkan melunturkan ikon Kepala Emas disandang Tumsila.
Dalam satu kesempatan, saat mengenang kepergian Parlin Siagian junior sekaligus rekan setim di PSMS, Tumsila menguraikan tak jarang gol sundulan diciptakan merupakan asist atau umpan rekan kerja di Kantor Pajak tersebut. Bermain dengan Parlin Siagian pemilik Banana Kick (tendangan pisang) beroperasi di sayap kiri, sebut Tumsila, sangat cocok karena sudah saling mengerti satu sama lain tentang kemana dan bagaimana enaknya bola diarahkan.
Menariknya lagi, dari serangkaian perjalanan panjang mempertahankan julukan The Killer bagi PSMS ketika itu tepatnya era 60-an tak membuat Tumsila besar kepala. Walaupun sempat ditawari FC VOETS Linz bermain untuk klub asal Austria yang dikalahkan anak-anak Medan 4-2 di Marah Halim Cup, Tumsila memilih tetap bersama PSMS dan membela timnas hingga gantung sepatu.
Di situasi sulit terbaring, istri Ane Tum yang mendampingi dengan setia bercerita ikon PSMS itu tak lagi sanggup duduk di kursi roda apalagi harus berdiri dan berjalan. Bahkan, merasakan sakit jika anggota tubuh disentuh atau tersentuh saat anggota keluarga ingin menggeser posisi berbaring ataupun untuk keperluan lainnya.
Parahnya lagi, sang legenda ini merasakan sakit tak terhingga pada seluruh tulang setiap kali malam beranjak menjelang subuh. Dan nyaris dapat dipastikan sejak pukul 22.00 Wib hingga subuh, Tumsila tak dapat tidur karena merasakan nyeri tak kepalang menyelubungi tulang-tulang sekujur badan. Sampai nantinya akan terlelap kala matahari mulai menyembul.
Kisah sang legenda PSMS maupun timnas ini tak akan pernah surut seiring matahari masih berputar di peraduannya. Samar bayangan akan kelincahan maupun sundulan tajam Tumsila selalu terlintas, di tengah glamour dan pesatnya perkembangan sepakbola tanah air juga seantero dunia. Andainya jejak perjalanan sang maestro heading ini terekam dengan baik di file audio visual, layaknya kecanggihan alat elektronik saat ini, tak ayal pecinta sepakbola tanah air akan terkesima dengan peragaan disajikan Ane Tum.
Kiranya boleh berharap, semoga Ane Tum diberikan kesehatan untuk sembuh seperti sedia kala memberikan advist ataupun sarasehan bagi generasi muda tentang teknik heading akurat maupun lompatan yang tepat menyongsong crossing, kemungkinan akan terlahir Golden Heading atau Kepala Emas lainnya di era sepakbola maju sekarang ini.
Tumsila atau Ane Tum merupakan satu dari beberapa legend sepakbola Medan maupun nasional secara umumnya. Ke-ikonik-kannya menjadikan Tumsila sebagai raja gol lewat kepala bersinar mengkilapkan sederet prestasi PSMS Medan maupun PSSI. Era itu pun telah berlalu, namun kegesitan ditampilkan cukup memberikan warna persepakbolaan di nusantara ini. Saatnya, kita dengan setia menunggu kemunculan ikon serupa memancar dari PSMS sebagai klub kebanggaan orang Medan dan Sumatera Utara umumnya bahkan tingkat nasional. (Ojie Nasution)

