PROSUMUT – Rumah Pintar yang berada di Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kini berkembang menjadi pusat laboratorium ekonomi sirkular.
Tempat ini menjadi model pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan berbasis masyarakat di kawasan Talang Babungo.
Dibangun melalui gotong royong masyarakat pada 2019, bangunan panggung berukuran 4×20 meter ini tidak hanya menjadi sarana edukasi tetapi juga pusat pengembangan ekonomi kerakyatan.
Rumah Pintar tersebut kini berfungsi sebagai perpustakaan budaya, ruang diskusi konsep ekonomi sirkular, serta titik kumpul bagi 90 penggiat ekonomi lokal, sebagian besar ibu rumah tangga yang aktif mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
“Dari Rumah Pintar inilah lahir berbagai inisiatif pengelolaan sumber daya berbasis ekonomi sirkular yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Ketua KBA Jorong Tabek, Kasri Satra, sekaligus inisiator ekonomi sirkular di Talang Babungo, Sabtu 16 Agustus 2025.
Integrasi Rantai Ekonomi: dari Gula Semut hingga Bank Sampah
Salah satu kegiatan utama di kawasan ini adalah pengolahan gula semut aren yang dikelola oleh 20 kepala keluarga.
Nira pohon enau disadap dan diolah menjadi gula semut melalui proses pemanasan menggunakan oven berbahan bakar gas.
Produksi harian mencapai 10-20 kg, dengan potensi maksimal hingga 50 kg per hari jika akses pasar lebih terbuka.
Keunggulan produk ini terletak pada kadar gula tinggi dan tekstur halus karena berasal dari dataran tinggi lebih dari 1.500 mdpl.
Limbah organik dari produksi gula semut tidak dibuang percuma. Bersama sampah organik rumah tangga, limbah ini diolah menjadi pakan maggot di Rumah Maggot KBA.
Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pakan di Kolam Ikan KBA, yang juga menjadi wahana rekreasi mini dan tempat pemancingan.
Kolam ini memberikan pendapatan rata-rata Rp5 juta per bulan yang digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan kesehatan warga kurang mampu.
Sementara itu, sampah nonorganik seperti botol plastik dan kemasan makanan dikelola melalui bank sampah. Kontribusi warga dicatat dalam bentuk tabungan yang bisa diuangkan kapan saja.
Sebagian hasil penjualan limbah dikembalikan kepada warga, dan sisanya dimanfaatkan untuk membangun fasilitas umum serta mendanai kegiatan ekonomi masyarakat.
Dampak Nyata Ekonomi Sirkular
Model ekonomi sirkular yang diterapkan di KBA Jorong Tabek telah membawa perubahan signifikan.
Daerah yang sebelumnya relatif terisolasi kini berkembang menjadi desa wisata yang terbuka untuk umum, lengkap dengan 45 homestay yang siap menampung wisatawan domestik.
Pendapatan dari berbagai unit usaha juga dimanfaatkan untuk mendanai beasiswa pendidikan.
Hingga saat ini, ekonomi sirkular di KBA Jorong Tabek telah berkontribusi mendukung pembiayaan beasiswa bagi 20 anak muda berprestasi yang melanjutkan pendidikan ke Jepang.
“Ekonomi sirkular telah menjadi tulang punggung pemberdayaan masyarakat di Jorong Tabek, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga dalam menjamin akses pendidikan dan kesehatan,” tutup Kasri. (*)
Reporter: Nastasia
Editor: M Idris

