Prosumut
Kesehatan

Gandeng BRIN, Sofyan Tan Beri Pelatihan Prediksi Schistosomiasis di Medan

PROSUMUT – Anggota DPR RI asal Sumatera Utara, dr Sofyan Tan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan pelatihan model prediksi terkait schistosomiasis atau skistosomiasis yang merupakan infeksi yang disebabkan cacing skistosoma. Di Indonesia, penyakit skistosomiasis lazim di sebut dengan istilah demam siput.

Pelatihan ini diikuti berbagai lapisan masyarakat baik dari kalangan penyuluh kesehatan, mahasiswa hingga jurnalis, di Hotel Four Point, Medan, Jumat 13 Maret 2026.

“Pelatihan yang dilakukan hari ini adalah upaya preventif atau pencegahan, karena Skistosomiasis ini adalah penyakit yang bisa dihindari,” kata Sofyan Tan dalam sambutannya.

Politisi PDI Perjuangan yang kini duduk di Komisi X DPR RI ini menjelaskan risiko terhadap berbagai penyakit menjadi hal yang harus terus dilakukan dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat.

Sebagai wakil rakyat, dia mengaku sangat terpanggil untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menghindari dan ikut dalam melakukan upaya pencegahan perkembangan penyakit tersebut.

“Karena itulah maka kita langsung menghadirkan peneliti dari BRIN untuk memberikan pengetahuan kepada seluruh peserta yang hadir.

Semoga dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik, maka kita semua dapat menjadi agen yang dapat menyebarkan informasi kesehatan ini kepada masyarakat luas,” ungkapnya.

Sementara itu, Yunus Widjaja yang merupakan Peneliti Muda BRIN mengatakan penyakit Skistosomiasis merupakan penyakit yang hingga saat ini masih ditemukan di Indonesia.

Meskipun, angka terpaparnya sangat sedikit akan tetapi BRIN memiliki kewajiban untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat selain upaya lain untuk mengeliminasi penyakit ini.

“Kita memproyeksikan bahwa tahun 2030 penyakit ini sudah tidak ditemukan di Indonesia,” ungkapnya.

Yunus menjelaskan, Skistosomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing skistosoma yang berkembang dengan penyebarannya lewat keong air.

Cacing yang memiliki ukuran sangat kecil ini dengan mudah berkembang dan menginfeksi orang-orang yang berkegiatan dengan air dimana keong-keong tersebut berkembang biak.

“Jika ada kontak dengan manusia, maka cacing ini akan masuk dan hidup di pembuluh darah. Karena dia hidup di pembuluh darah maka dia akan terikut dengan peredaran darah hingga bisa tersebar masuk ke hati, paru, kandung kemih. Salah satu gejalanya seperti demam, diare berdarh hingga kerusakan organ,” ujarnya.

Ditambahkan Junus, untuk Indonesia jumlah kasus penyakit Skistosomiasis ditemukan di Sulawesi Tengah. Karena itu, sosialisasinya sangat banyak dilakukan di kawasan tersebut mengingat resikonya yang sangat tinggi terhadap kesehatan masyarakat.

“Pun begitu, masyarakat secara umum harus diberi pemahaman terkait penyakit ini. Dengan begitu upaya pencegahan dapat dilakukan, termasuk upaya pengobatan bagi yang sudah terinfeksi penyakit tersebut,” pungkasnya. (*)

Editor: M Idris

BACA JUGA:  Survei: Mayoritas Pasien Puas dengan Layanan RSUD Pirngadi Medan

Konten Terkait

Fasilitas Rumah Sakit dan Puskesmas di Kabupaten Batubara Ditingkatkan

Editor Prosumut.com

Dampak Virus Corona, Binjai Siaga Darurat Non Bencana Alam

admin2@prosumut

Kader KB Diminta Menjadi Agen Sosialisas Kebiasan Baru

Editor Prosumut.com

Dinkes Sumut Aktifkan Pos Pelayanan Kesehatan di Setiap Kabupaten/kota Selama Nataru

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Kasus Aktif Covid-19 Sumut Terus Bertambah

Editor Prosumut.com

RS Adam Malik Hadirkan Teknologi TMS: Harapan Baru untuk Pemulihan Pasien Neurologi

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara