PROSUMUT – Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia (RI) melakukan pendataan ke wilayah bencana di Sumatera. Pendataan yang dilakukan dengan menerjunkan ratusan mahasiswa dari Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS).
Inspektorat Utama BPS RI, Dr Dadang Hardiwan mengatakan pendataan ini merupakan wujud dari Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026, dimana BPS menjadi koordinator penyediaan data.
BPS turut berperan aktif dalam Satuan Tugas Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas R3P) melalui pelaksanaan kegiatan pendataan di wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Dalam pelaksanaannya, BPS berkolaborasi dengan TNI untuk memberangkatkan mahasiswa STIS ke Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) pada 14 dan 15 Januari 2026.
Pemberangkatan dilakukan menggunakan pesawat Hercules TNI AU yang mendarat di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh serta beberapa pesawat yang tiba di Lanud Soewondo, Medan.
“Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung penyediaan data yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah terdampak,” kata Dadang saat diwawancarai di Lanud Soewondo, Medan, Rabu 14 Januari 2026.
Dia menyebutkan ada 510 mahasiswa STIS yang diterjunkan untuk melakukan pendataan. Mereka ini Praktik Kerja Lapangan (PKL) di 15 kabupaten/kota yang terjadi bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar.
“Kegiatan ini juga bagian dari pengabdian kepada masyarakat, yang berlangsung sejak 14 Januari hingga 27 Januari 2026,” sebutnya.
Dijelaskan Dadang, pendataan ke wilayah bencana yang dilakukan tersebut salah satunya terkait kerusakan rumah seperti apa kondisinya. “Pendataan ini lebih kepada individu, keluarga, komunal dan infrastruktur,” terangnya.
Ia menambahkan data dari hasil pendataan ke wilayah bencana Sumatera ini akan dipadukan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“BPS memiliki data tunggal yaitu DTSEN. Jadi, kami akan memadupadankan dengan data DTSEN yang ada dan nantinya akan kami serahkan kepada Satgas Bencana,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Politeknik Statistika STIS, Prof Setia Permana mengatakan untuk di Sumut ada lima kabupaten/kota yang menjadi wilayah sasaran pendataan.
Yaitu, Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), Tapanuli Selatan (Tapsel), Sibolga dan Mandailing Natal (Madina).
“Di Sumut ada 210 mahasiswa yang dilibatkan untuk mendata di lima kabupaten/kota. Jumlah mahasiswa yang diterjunkan ke daerah bencana tergantung luas wilayah, kondisi kerusakan dan lainnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut Prof Setia menuturkan, PKL yang dilakukan ratusan mahasiswa STIS ini bukan seperti pada umumnya, melainkan untuk kontribusi terhadap kemanusiaan.
“PKL seperti ini baru pertama kali, biasanya PKL yang dilakukan untuk membantu atau mendukung kegiatan BPS, misalnya sensus ekonomi dan sebagainya.
PKL ini juga permintaan dari bapak presiden melalui Satgas Bencana. Persiapannya cukup cepat dan tentunya untuk mendukung rehabilitasi serta rekonstruksi pada daerah bencana di tiga provinsi tersebut,” tandasnya. (*)
Editor: M Idris

