Prosumut
LingkunganUmum

Sofyan Tan Ajak Masyarakat Medan Manfaatkan Sampah agar Berdaya Guna

PROSUMUT – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan mengajak masyarakat Kota Medan untuk memanfaatkan sampah rumah tangga agar berdaya guna.

Hal ini disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemanfaatan Limbah dan Sampah Plastik Kota Medan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang digelar, Sabtu 27 Juni 2026.

Dikatakan Sofyan Tan, sampah ada beberapa jenis, organik dan anorganik. Organik yang mudah terurai dan anorganik yang sulit terurai hingga ratusan tahun.

“Jadi, yang paling utama itu adalah sampah organik. Berupa sampah makanan, atau yang bisa diolah kembali jumlahnya sekitar 60% dan bisa diolah jadi pupuk kompos,” sebutnya.

Dalam pengolahan sampah menjadi pupuk organik, Sofyan Tan sudah melakukannya selama 28 tahun ini. Bermula di Bukit Lawang dengan tujuan agar pariwisatanya banyak dikunjungi wisatawan.

“Kami mengajari masyarakat di sana untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik. Sehingga dengan pengolahan sampah menjadi pupuk, petani tidak akan rugi dengan pengolahan pupuk anorganik atau pupuk kimia. Sebab, hampir 50 persen modal petani untuk membeli pupuk anorganik belum lagi biaya lainnya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sofyan Tan juga mengungkapkan keheranannya kenapa jeruk Tiongkok masuk ke Indonesia lebih murah dari jeruk Berastagi. Bahkan jeruk Tiongkok selalu ada berbulan-bulan. Padahal memiliki empat musim, di mana saat musim dingin tentunya tidak bisa bercocok tanam.

“Percaya gak percaya jelang Imlek, jeruk Tiongkok banyak sekali. Padahal saat Imlek itu, Tiongkok memasuki musim semi artinya baru mulai bercocok tanam, tapi jeruk sudah banjir ya. Ternyata mereka pakai rumah kaca yakni teknologi bercocok tanam dan menggunakan pupuk organik, tidak menggunakan bahan kimia,” jelasnya.

Untuk itu, ia berharap saat ini petani bisa mengolah limbah atau sampah menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah, maka hasilnya tanaman tidak mengandung racun. Masyarakat yang makan hasil tanaman petani akan menjadi sehat dan harga jual juga lebih mahal.

“Hari ini saya punya 1.000 petani di Takengon, menanam kopi arabika Gayo yang di ekspor ke Eropa. Jadi setiap tahun itu 12-15 kontainer dengan harga mahal yang tidak dijual di Indonesia.

Kenapa saya melakukan itu, karena saya lihat petani di Aceh itu, kalau tanahnya tidak gembur dia akan potong pohon di hutan, pakai zat kimia atau pupuk kimia dan membuat pengerasan pada tanah.

Kalau sudah begitu makan tanaman tidak akan tumbuh subur dan dia akan masuk ke hutan lagi untuk membuka lahan, dan hutan akan gundul.

Padahal cara menanam petani itu yang salah, akhirnya kami bersama tim merubah pola pikir mereka untuk tidak menggunakan zat kimia, dengan membeli sapi untuk diolah kotorannya menjadi pupuk organik, dan hari ini penghasilan mereka meningkat dengan sertifikat organik,” ungkapnya.

Selain itu, Sofyan Tan juga mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan baik. Menurutnya, berbagai jenis sampah, termasuk botol plastik, masih memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan didaur ulang.

Sementara, Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Muda BRIN, Faizinal Abidin ST MT menyatakan, pengelolaan sampah yang baik harus diawali dengan membangun kebiasaan dan budaya hidup bersih sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan mengenai kebersihan lingkungan perlu ditanamkan kepada anak-anak agar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa paradigma pengelolaan sampah kini telah berubah. Jika dahulu masyarakat hanya diajarkan membuang sampah pada tempatnya, saat ini pendekatannya berkembang menjadi memilah dan mengolah sampah sesuai dengan jenisnya sehingga memiliki nilai guna dan tidak mencemari lingkungan.

Ia mengimbau masyarakat untuk mulai menyediakan sedikitnya dua tempat sampah di rumah, yakni untuk sampah organik dan anorganik. Kebiasaan sederhana tersebut dinilai menjadi langkah awal yang efektif dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang baik.

“Masyarakat dapat memanfaatkan lubang biopori atau pot tanaman untuk mengolah sampah organik seperti daun kering, sisa sayuran, dan sisa makanan. Kebiasaan kecil tersebut jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mendukung pelestarian alam,” tuturnya. (*)

Reporter: Nastasia

Editor: M Idris

BACA JUGA:  Wabup Tiorita Ikuti Bhakti Kesehatan Poldasu

Konten Terkait

Katanya Kuliah Rupanya Kerja Paksa

Val Vasco Venedict

Prediksi CFR Cluj vs Dinamo Zagreb: Menjaga Momentum

Pro Sumut

Persikad-PSMS, Kartu Merah dan Hasil Imbang

Editor honeydew-lobster-961789.hostingersite.com

Kasus Kekerasan Seksual Meningkat Setiap Tahun di Sumatera

Editor Prosumut.com

Mantan Pekerja Beberkan Borok PT Aquafarm

Hari Bhayangkara, 428 Personel Polda Sumut Naik Pangkat

admin2@prosumut
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara