Oleh : Valdesz Junianto, jurnalis Prosumut.com
Pukul 23.47 WIB. Ruang redaksi masih terang. Lampu neon menggantung pucat di langit-langit, memantul di puluhan layar laptop yang belum juga dimatikan. Di salah satu meja dekat jendela, Bahtera bergerak malas lantas menggeser sedikit kursinya ke belakang. Ia memicingkan mata beberapa detik, lalu membukanya kembali dengan gerakan pelan, seperti orang yang sedang menyesuaikan diri setelah keluar dari ruangan gelap. Dia bukan mengantuk, tetapi sedang mencoba menenangkan matanya.
HAMPIR dua puluh tahun Bahtera bekerja sebagai jurnalis.
Ia terbiasa hidup dari tenggat ke tenggat, dari satu berita ke berita berikutnya.
Ia tahu bagaimana mengukur lelah tubuh, tahu kapan kopi tak lagi mempan, tahu kapan otak perlu dipaksa berhenti. Namun ada satu hal yang baru ia pelajari belakangan: mata juga punya batas.
Dan, batas itu mulai ia lewati.
Huruf-huruf di layar terasa makin kecil, walau ukuran font tak berubah.
Matanya cepat panas, seperti terkena asap tipis yang tak kasat mata.
Kelopak terasa berat, sedikit turun, membuat wajahnya tampak lebih sepet di foto-foto terbaru.
Kadang perih datang tiba-tiba, lalu menghilang, lalu kembali lagi menjelang malam.
Bahtera menyebutnya kelelahan biasa. Padahal, tanpa ia sadari, ia sedang masuk ke statistik kesehatan kota besar.
Di Jakarta dan Bandung, dua kota dengan ritme kerja paling padat di Indonesia, berbagai studi kesehatan mata menunjukkan angka yang sulit diabaikan: sekitar 41 persen penduduk mengalami sindrom mata kering atau dry eye disease.
Angka itu berarti hampir satu dari dua orang.
Lebih mengejutkan lagi, sebagian besar dari mereka tidak tahu bahwa kondisi yang mereka alami adalah gangguan medis yang nyata.
Mereka tetap bekerja, tetap menatap layar ponsel di kendaraan umum, tetap menyelesaikan laporan, desain, atau kode program, sambil menormalisasi mata yang terasa sepet, perih, atau cepat lelah.
Dalam survei klinis, banyak pasien menyebut gejalanya hanya sebagai “mata capek”, “kurang tidur”, atau “kelilipan”.
Padahal secara medis, mata kering adalah kondisi kronis akibat terganggunya stabilitas lapisan air mata.
Gangguan ini bisa disebabkan oleh produksi air mata yang menurun, kualitas air mata yang buruk, atau penguapan yang terlalu cepat dari permukaan mata. Dan, kota modern menyediakan semua faktor pemicunya.
Air mata bukan sekadar cairan bening yang muncul saat seseorang menangis.
Ia adalah sistem biologis kompleks yang terdiri dari tiga lapisan: lipid, aqueous, dan mucin.
Kombinasi ini menjaga permukaan mata tetap licin, jernih, dan terlindung dari bakteri serta partikel asing. Setiap kali manusia berkedip, lapisan ini diperbarui.
Masalahnya, kebiasaan menatap layar mengubah mekanisme alami tersebut.
Penelitian di bidang oftalmologi menunjukkan bahwa saat seseorang bekerja di depan komputer atau ponsel, frekuensi berkedip bisa turun hingga 40–60 persen.
Mata dibiarkan terbuka lebih lama, air mata menguap lebih cepat, dan lapisan pelindung tidak sempat terbentuk sempurna. Di ruangan ber-AC, proses penguapan terjadi lebih cepat lagi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan osmolaritas air mata, memicu peradangan mikro pada jaringan mata, dan merusak stabilitas permukaan kornea.
Inilah awal dari sindrom mata kering.
Gejalanya sering ringan di awal.
Kadang rasa sepet, perih, panas, sensasi berpasir, atau penglihatan buram sesaat.
Namun jika berlangsung terus-menerus, gangguan ini dapat menurunkan kualitas penglihatan, meningkatkan risiko infeksi mata, dan memengaruhi produktivitas kerja.
Bagi profesi yang hidup dari ketelitian visual, sebagaimana jurnalis, editor, desainer, atau analis data, mata kering bukan sekadar gangguan kecil.
Ia bisa menjadi hambatan sehari-hari yang menggerogoti konsentrasi secara perlahan.
Bahtera mulai menyadari ada yang tidak beres ketika ia harus mengucek mata berkali-kali hanya untuk membaca ulang satu paragraf.
Ia mengira masalahnya ada pada layar laptop, lalu mengganti tingkat kecerahan.
Ia mengira lampu ruangan terlalu terang, lalu memindahkan meja. Ia mengira kurang tidur, lalu memaksakan tidur lebih awal.
Tak ada yang benar-benar berubah.
Suatu malam, setelah mengedit berita hampir enam jam tanpa jeda, matanya terasa panas seperti disiram air asin. Pandangannya sedikit kabur.
Ia menutup laptop lebih cepat dari biasanya dan keluar mencari apotek yang masih buka.
Di rak obat mata, ia memilih INSTO Dry Eyes.
Ini bukan karena iklan, tapi karena fungsi yang tertulis jelas: membantu meredakan gejala mata kering. Dua tetes di masing-masing mata. Efeknya tidak dramatis.
Tidak ada sensasi spektakuler.
Hanya rasa dingin ringan, lalu kelegaan kecil, seperti paru-paru yang akhirnya mendapat udara setelah lama menahan napas.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia bisa menatap layar tanpa merasa matanya sedang diperas dari dalam.
Dalam panduan klinis internasional, tetes mata pelumas atau “artificial tears” memang direkomendasikan sebagai terapi lini pertama bagi penderita mata kering ringan hingga sedang.
Tujuannya bukan menyembuhkan secara permanen, melainkan menggantikan cairan yang tidak lagi cukup diproduksi atau dipertahankan oleh mata.
Cairan ini membantu mengurangi gesekan saat berkedip, menurunkan iritasi, menjaga stabilitas permukaan mata, dan memperbaiki kualitas penglihatan sementara.
INSTO Dry Eyes termasuk dalam kategori ini.
Obat tetes ini dirancang untuk memberikan pelumasan tambahan pada mata yang mengalami kekeringan akibat faktor lingkungan maupun aktivitas visual intensif.
Bagi Bahtera, efek terpentingnya sederhana: ia bisa kembali bekerja tanpa rasa perih yang terus mengganggu.
Sejak malam itu, botol kecil itu menjadi penghuni tetap di mejanya, berdiri di antara kopi dingin dan tumpukan catatan wawancara.
Ia tidak mengubah jam kerja Bahtera. Tidak mengurangi deadline. Tidak juga membuat tulisannya menjadi lebih ramah.
Namun ia mengembalikan satu hal yang sempat hilang yakni kenyamanan untuk melihat.
Fenomena mata kering mencerminkan perubahan besar dalam cara manusia bekerja dan hidup.
Kota modern dibangun dengan asumsi bahwa mata adalah alat yang tidak pernah lelah.
Bahwa manusia bisa menatap layar selama berjam-jam tanpa konsekuensi biologis berarti. Sayang data berbicara sebaliknya.
Dengan prevalensi mencapai 41 persen di Jakarta dan Bandung, mata kering telah melampaui status “keluhan individu”. Ia telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang nyaris tak terlihat.
Tidak ada poster kampanye besar tentangnya. Tidak ada hari peringatan nasional. Tidak ada alarm publik.
Ia hanya hadir sebagai rasa tidak nyaman kecil yang dialami jutaan orang setiap hari.
Sedikit perih saat sore. Sedikit sepet saat malam, atau sedikit buram saat menatap layar terlalu lama.
Cukup untuk membuat hari kerja terasa lebih panjang dari seharusnya, atau juga menggerus kualitas hidup tanpa benar-benar disadari.
Kini Bahtera masih duduk di meja yang sama, di bawah lampu yang sama, dengan layar yang sama terangnya. Ia masih menulis tentang politik, kebijakan publik, dan konflik sosial.
Ia masih pulang larut.
Namun ada kebiasaan baru yang ia jaga. Ia berhenti setiap dua puluh menit, mengalihkan pandangan ke luar jendela, berkedip lebih sadar, lalu meneteskan cairan kecil dari botol INSTO Dry Eyes ketika matanya mulai terasa berat.
Langkah-langkah itu tampak remeh.
Namun di kota yang tidak pernah benar-benar memejamkan mata, menjaga mata tetap lembab mungkin adalah bentuk perawatan kesehatan paling realistis, serta paling sering diabaikan.
Karena di zaman ketika hampir seluruh pekerjaan dilakukan dengan mata terbuka menatap piksel, kelelahan visual bukan lagi pengecualian. Ia sudah menjadi norma.
Dan seperti Bahtera, jutaan orang lain sedang belajar bahwa bertahan di era digital bukan hanya soal kekuatan mental atau stamina tubuh, tetapi juga tentang merawat dua organ kecil yang setiap hari memikul beban terbesar: sepasang mata yang jarang diberi kesempatan untuk benar-benar beristirahat. (*)
Catatan: Tulisan ini dibuat dalam rangka “Insto Dry Eyes Bebas Mata SePeLe Journalist Competition”.

