Prosumut
Ekonomi

Ketua Asperindo Sumut Sebut Ada 10 Tantangan Logistik, Perlu Peran Pemerintah dan Berbagai Pihak Cari Solusi

PROSUMUT – Logistik sangat berperan dalam perekonomian Indonesia dan dunia untuk ekosistem ekonomi digital, supply chain industri, program pemerintah dan pemenuhan hidup masyarakat.

Pertumbuhan logistik di Sumatera Utara dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan peningkatan rata rata 20 persen per tahun.

Ketua Asperindo (Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia) Sumut Dr Fikri Alhaq Fachryana, STP MM MH menuturkan, di sisi lain ekosistem logistik di provinsi ini masih menghadapi berbagai tantangan.

“Saat ini kualitas logistik dan jasa pengiriman ekpress Indonesia masih rendah,” kata Fikri Alhaq di Medan, Selasa 26 Maret 2024.

Ia menjelaskan, posisi yang rendah itu ditunjukkan dengan LPI (Logistic Performance Index) Indonesia hingga tahun 2023 masih di urutan 63, turun peringkat dari 2028 (ke 46).

Fikri pun memaparkan 10 tantangan yang dihadapi Asperindo Sumut.

“Tantangannya adalah pertama kualitas sumberdaya manusia serta riset dan teknologi yang masih kurang di bidang logistik. Saat ini Sumatera Utara belum memiliki perguruan tinggi di bidang logistik,” ungkapnya.

Kedua, ucapnya, kemudahan cross border produk asing dari China dalam Marketplace langsung ke Medan, sehingga mengancam produk UMK dan seller-seller lokal. Menurunnya produksi UMKM dan seller lokal Sumatera Utara menyebabkan potensi pengiriman barang menurun.

Ketiga, adanya aturan Omni Bus Law UU Cipta Kerja yang memungkinkan perusahaan asing pengiriman express dan logistik untuk membuka bisnis sampai ke tingkat kab kota. Menurutnya kebijakan ini akan mengancam keberlanjutan perusahaan logistik lokal/nasional di Sumatera Utara.

Keempat, menyusul mega change pasca covid dan meningkatkan ongkos logistik udara, dimana UMKM dan seller tidak mampu bersaing memasarkan produk ke domestik (Jawa, Kalimantan, Sulawesi). Maka, katanya, pengiriman barang saat ini cenderung destinasi tujuan intra wilayah Sumatera Utara dan Regional Sumbagut (Riau, Aceh, Sumatera Barat).

“Akan tetapi infrastruktur jalan beberapa kabupaten dan kecamatan masih kurang baik,” ujarnya.

Kelima, pembangunan infrastruktur jalan tol di Sumatera Utara memberikan peluang percepatan pengiriman dan logistik, namun demikian cost operasional pengiriman akan lebih tinggi jika tarif tol tinggi.

Keenam, ancaman keamanan bajing loncat-pungli-begal sangat sering dialami perusahaan logistik, sehingga merugikan baik perusahaan dan utamanya masyarakat Sumatera Utara pemilik barang.

Ketujuh, kenaikan harga kargo udara di Bandara Kualanamu mengakibatkan naiknya tarif pengiriman yang dibebankan kepada pelanggan (masyarakat Sumatera Utara).

“Perlu diketahui bahwa tarif kargo udara adalah cost component utama dalam jasa logistik,” katanya.

Kedelapan, dwelling time proses pengiriman barang dan logistik di Bandara Kualanamu lebih lama dibandingkan bandara lain di Indonesia. Selain problem dwelling time, adanya proses yang panjang menyebabkan cost operational lebih tinggi.

Kesembilan, dalam hal forewarding, contohnya di Belawan, dengan banyaknya perusahaan besar dari luar masuk ke Sumatera Utara, sehingga perusahaan lokal sulit bersaing.

Kesepuluh, saat ini perusahaan perusahaan produsen besar (seperti perusahaan sawit) yang melakukan export, telah memiliki perusahaan forwarder sendiri, sehingga seluruh pekerjaan bisnis dikerjakan sendiri.

“Ini memberikan peluang tidak hanya monopoli tetapi dapat menimbulkan kartel, mematikan usaha sejenis yang sudah ada atau forewarder,” ujarnya.

Fikri menegaskan, dengan 10 tantangan tersebut diperlukan peran pemerintah dan seluruh pihak untuk memberikan solusi demi kepentingan masyarakat Sumatera Utara yang lebih baik.

Ia juga menyebut organisasi logistik sangat berperan dalam mengkonsolidasikan fungsi dari seluruh stakeholder logistik dalam memenuhi fungsi tersebut. Maka dari itu, Asperindo bersama dengan ALFI (Asosiasi Logistik dan Forewarder Indonesia), IPCN (Ikatan Pengusaha Cargo Nusantara) dan APTRINDO (Asosiasi Pengusa Truk Indonesia), melakukan MoU.

Kesepakatan kerja sama itu dalam rangka menyatukan misi dalam Forum Logistik Sumut itu telah dilaksanakan pada Selasa 19 Maret 2024 lalu di Plaza Pesona Nusantara Medan. (*)

Reporter: Nastasia

Editor: M Idris

Konten Terkait

Fesyar Sumatera 2023, Bank Indonesia Buka Pekan Syariah di Medan Hingga 6 Minggu

Editor prosumut.com

Iran-AS Perang, Harga BBM di Indonesia Berpotensi Naik

Editor prosumut.com

Grab Harus Contoh Gojek Jamin Keselamatan Mitra dan Pengguna

Ridwan Syamsuri