Prosumut
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Terpukul, Awas! Indonesia Bisa Terseret

PROSUMUT – Kabar buruk kembali menghantui pasar keuangan domestik. Sebab, negara tetangga yakni Malaysia membukukan pertumbuhan negatif pada kuartal II 2020.

Angkanya tidak tanggung-tanggung, pertumbuhan ekonomi Malaysia terpukul -17,07 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Kinerja pertumbuhan ekonomi yang negatif tersebut menyisahkan masalah serius bagi Malaysia.

Menurut pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Malaysia mengalami pukulan paling buruk, bahkan jika dibandingkan dengan krisis di tahun 1998 silam. Meskipun, pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2020, Malaysia masih mampu positif.

BACA JUGA:  OJK Percepat Reformasi Pasar Modal untuk Perkuat Likuiditas dan Kepercayaan Investor

Akan tetapi, penurunan pertumbuhan kuartal II tersebut diyakini sebagai pertanda bahwa ekonomi Malaysia akan kesulitan untuk rebound pada kuartal III nantinya.

“Krisis yang melanda Malaysia ini bisa menjadi kabar buruk bagi perekonomian nasional. Meskipun, pada dasarnya sudah diperkiraan jauh hari sebelumnya. Akan tetapi, dampak dari krisis Malaysia tersebut tidak bisa diremehkan begitu saja. Hal ini mengingat hubungan dagang antara Indonesia dengan Malaysia cukup signifikan, termasuk dalam penyediaan tenaga kerja dari Indonesia ke Malaysia,” ujar Gunawan, Jumat 14 Agustus 2020.

Karena itu, dampak rembesan krisis di Malaysia ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional. Di tengah kondisi seperti ini, pemerintah diminta harus lebih waspada lagi.

BACA JUGA:  OJK Percepat Reformasi Pasar Modal untuk Perkuat Likuiditas dan Kepercayaan Investor

“Krisis di Malaysia membuat Indonesia kian dekat dengan potensi resesi di kuartal III nantinya,” kata Gunawan.

Sementara itu, sambung Gunawan, dalam pembacaan pidato nota keuangan pemerintah, lagi-lagi ketidakpastian ekonomi di tahun 2021 masih menghantui.

Belanja pemerintah yang diharapkan menjadi saah satu sumber paling besar untuk mendongkrak perekonomian, sepertinya tidak bisa diharapkan terlalu banyak.

Ketidakpastian ekonomi masih membayangi dan bisa saja membuat asumsi kinerja ekonomi makro ke depan berubah ubah.

BACA JUGA:  OJK Percepat Reformasi Pasar Modal untuk Perkuat Likuiditas dan Kepercayaan Investor

“Di tengah kondisi yang serba sulit ini, pelaku pasar akan kesulitan dalam merumuskan kebijakan investasinya. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG masih mampu ditutup menguat 0,16 pertumbuhan ekonomi Malaysia terpukul pada level 5.247,69. Sementara, mata uang rupiah melemah di level 14.795 per US Dolar. Akan tetapi, seharian perdagangan rupiah sempat menyentuh level terendah 14.870 per US Dolar,” pungkasnya. (*)

 

Reporter : Rayyan Tarigan
Editor        : Iqbal Hrp
Foto            : 

Konten Terkait

Permendag 22/2022, Pemerintah Larang Ekspor CPO dan Turunannya

Editor prosumut.com

Sidak Pabrik Migor di Marunda, Mendag: Pabrik Bekerja Nonstop

Editor prosumut.com

LPEI Berkomitmen #SemakinApik Dorong Ekspor Nasional

Editor prosumut.com

Facebook dan PayPal Resmi Jadi Investor Gojek 

admin2@prosumut

Sequis Ingatkan Generasi Muda Bahaya Pinjol dan Judi Online

Editor prosumut.com

HokBen Gandeng BPJPH Sosialisasikan Wajib Sertifikasi Halal

Editor prosumut.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara