Prosumut
Ekonomi

Harga CPO Terus Melambung, Ini Kata Pengamat

PROSUMUT – Harga crude palm oil (CPO) terus mengalami kenaikan. Harga komoditas minyak sawit mentah tersebut saat ini hampir mencapai 2.700 ringgit per ton.

Menurut pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, harga CPO pada perdagangan kemarin (21 November 2019) sempat mendekati level 2.695 ringgit per ton.

Kenaikan harga ini terjadi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dikatakan Gunawan, kondisi persediaan CPO yang anjlok seiring dengan musim kering ditambah dengan kabut asap yang mengganggu sebelumnya.

BACA JUGA:  Akses Jalan Masih Terbatas, BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh

Bahkan, terdorong dengan kondisi iklim politik Malaysia dan India yang memanas.

“Tetapi, kali ini harga CPO yang mengalami kenaikan justru bertolak belakang dengan kinerja harga kedelai. Padahal, saat harga kedelai mengalami kenaikan harga CPO cenderung untuk mengikutinya,” ujar Gunawan,  Jumat 22 November 2019.

Gunawan menyebutkan, tren kenaikan harga CPO sejauh ini masih dipengaruhi oleh dua faktor besar paling utama.

Yakni, sisi persediaan yang turun ditambah dengan ketidakharmonisan hubungan politik India-Malaysia.

BACA JUGA:  Pertamina Sumbagut Bersama BPH Migas Pastikan Keandalan Energi di Pulau Nias

“Sisi persediaan memang turun belakangan, yang membuat harga CPO mengalami kenaikan. Namun, yang perlu dicatat adalah kenaikan harga CPO disaat musim paceklik, ini tidak berpengaruh signifikan kepada petani sawit,” sebutnya.

Hal itu, lanjut dia, karena memang kenaikan harga tersebut mengkompensasi produktifitas yang mengalami penurunan. Petani justru relatif lebih diuntungkan dengan faktor politik yang mendongkrak harga sawit belakangan ini.

Sementara, dari sisi permintaan dinilai konsumsi CPO yang diperuntukkan untuk campuran bio diesel memang bisa mendongkrak permintaan.

BACA JUGA:  BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara

Sebelumnya, pada awal pekan bulan ini harga CPO naik yang mencapai 2.562 ringgit per ton.

Pemicu kenaikan harga CPO tersebut terjadi saat Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyatakan bahwa New Delhi ‘menyerbu dan menduduki’ Kashmir.

Pernyataan tersebut dilontarkan di majelis umum PBB belum lama ini. India pun langsung bereaksi keras dengan memboikot produk CPO dari Malaysia. Hal ini berbuah manis terhadap kenaikan harga CPO itu sendiri. (*)

Konten Terkait

Bank Indonesia, TPIP & TPID se-Sumatera Komit Jaga Inflasi

Editor prosumut.com

Tiga Bank Syariah BUMN Publikasikan Rencana Merger 

Editor Prosumut.com

Ubiklan Kenalkan Konsep Human Billboard Berbasis Teknologi

Pro Sumut

Hotel Grandhika Setiabudi Medan Hadirkan Pesta Malam Tahun Baru Lintas Generasi

Editor prosumut.com

Inflasi Tahunan Sumut 2,06 Persen pada Juli 2024, Ini 5 Komoditas Dominan Penyumbang

Editor prosumut.com

LPEI Dorong UKM Berorientasi Ekspor melalui Pembiayaan dan Pelatihan

Editor prosumut.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara