Prosumut
Kesehatan

Penundaan Pernikahan dan Usia Kelahiran Pertama Bisa Picu Kanker Payudara

PROSUMUT – Banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita terserang penyakit kanker payudara, mulai dari faktor genetik, perubahan pola hidup, konsumsi makanan tinggi lemak dan alkohol yang berlebihan, merokok, dan lain sebagainya.

Namun, dari berbagai faktor tersebut ternyata perubahan pola hidup dan konsumsi makanan tinggi lemak menjadi dominan memicu kanker payudara.

Menurut dokter spesialis bedah onkologi RS Murni Teguh, dr Albiner Simarmata SpB(K)Onk, faktor penyebab kanker payudara ini tidak ada penyebab khusus karena penyakit tersebut bukan disebabkan dari virus.

BACA JUGA:  Genjot Penggunaan KB Modern, BKKBN Sumut Perkuat Peran PKB di Toba

Bahkan, faktor keturunan tidak signifikan hanya memberi andil sekitar 5 sampai 10 persen saja.

“Faktor utamanya adalah perubahan pola hidup, seperti penundaan perkawinan. Kemudian, penundaan usia kelahiran pertama,” ungkap dr Albiner, Selasa 12 November 2019.

Kata dia, berdasarkan laporan penelitian dari India bagian timur, apabila perempuan menikah dan melahirkan di atas 30 tahun maka memiliki kesempatan dua kali lebih besar terkena kanker payudara. Termasuk juga, perempuan yang sudah haid di bawah usia 11 tahun.

“Selain itu, perempuan yang haid lebih lama atau menopause setelah usia 55 tahun. Namun, di Indonesia untuk menopause ini masih jarang karena rata-rata di bawah 50 tahun,” ujarnya.

BACA JUGA:  Genjot Penggunaan KB Modern, BKKBN Sumut Perkuat Peran PKB di Toba

Tak hanya itu saja, lanjut dr Albiner, ada juga faktor lainnya yang memicu kanker payudara yaitu kegemukan atau kelebihan lemak.

Di samping itu, sering mengkonsumsi makanan bercampur bahan kimia juga dapat memicu penyakit tersebut.

“Untuk mencegah kanker payudara tidak ada pencegahan yang primer, karena tidak tahu seseorang yang berpotensi terkena penyakit ini. Oleh karenanya, yang ada pencegahan sekunder seperti menjaga pola makan dan hidup sehat, berat badan, berolahraga, tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi alhokol,” jelas dr Albiner.

BACA JUGA:  Genjot Penggunaan KB Modern, BKKBN Sumut Perkuat Peran PKB di Toba

Ia menambahkan, jumlah pasien kanker payudara yang ditangani di RS Murni Teguh terjadi peningkatan dari tahun 2018 ke 2019. Tahun 2018, berjumlah 1.392 sedangkan 2019 mencapai 1.526.

“Jumlah pasien kanker payudara di tahun 2019 ada 1.366 orang (rawat jalan) dan 160 orang untuk rawat inap (data Januari-September). Penyakit kanker payudara ini merupakan peringkat pertama di RS Murni Teguh ditahun 2018 dan 2019,” tandasnya. (*)

Konten Terkait

BKKBN Sumut Segera Intervensi Ibu Hamil dan Baduta, Targetkan Angka Stunting Turun Jadi 14 Persen

Editor prosumut.com

Dua Anak Gangguan Ginjal Akut Masih Dirawat, RSUP HAM Siap Jadi Rujukan

Editor prosumut.com

Komisi II DPRD Medan Minta Pelayanan Kesehatan RSU Milik Pemko Ditingkatkan

Editor prosumut.com

Kabar Positif Covid-19 Bertambah, Ini Kata Dinkes Batubara

admin2@prosumut

Negatif Covid-19, Pemkab Labuhanbatu Minta Maaf ke Keluarga Alm Ibnu

admin2@prosumut

Bayi Lahir Mati dan Kelainan Jantung, Bahaya Ibu Hamil Terpapar Asap Rokok

Editor prosumut.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara