Prosumut
Kesehatan

Hilangkan Stigma pada Gangguan Bipolar

PROSUMUT – Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Menurut Dokter Spesialis Kejiwaan, yang juga Ketua Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) Hari Bipolar Sedunia yang jatuh hari ini, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan bipolar dan menghilangkan stigma sosial terhadap gangguan ini.

Dikatakannya, gangguan ini dikenal juga dengan istilah Gangguan Afektif  Bipolar, atau dulu lebih dikenal dengan istilah Psikosa Manik Depresif. Gangguan ini mempengaruhi setiap aspek kehidupan.

“Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik, ditandai oleh episode manik, hipomanik, depresi dan campuran, biasanya rekuren dan dapat  berlangsung seumur hidup,” katanya pada Prosumut, Senin 30 Maret 2020.

Untuk Episode manik atau hipomanik, lanjut dr Elmeida ditandai dengan mood yang meningkat,  penampilan yang menyolok, dandanan berlebihan, pilihan busana bewarna cerah atau menggoda, banyak bicara, sering juga disertai mudah marah, tidak capek-capeknya mengerjakan berbagai hal, tidak tidur, atau tidur hanya 3-4 jam saja tapi tetap merasa segar, boros, belanja-belanja yang tidak penting, mengerjakan aktivitas yang cenderung berbahaya, aktivitas seksual meningkat.

“Episode manik ini biasanya berlangsung 1 minggu. Episode hipomanik memiliki tanda tanda yang serupa dengan episode manik namun tidak separah episode manik dan hanya berlangsung 4 hari,” jelasnya.

Sedangkan episode depresif, menurut dia ditandai dengan rasa sedih, mood yang depresif, tertekan, hilang minat atau kesenangan, mudah lelah, kurang energi,  merasa putus asa, rasa bersalah, tidak berharga, tidak berguna, sampai perasaan lebih baik mati bahkan memiliki keinginan bunuh diri, penurunan berat badan meskipun tidak sedang diet. Episode ini biasanya berlangsung sekitar 2 minggu.

“Terkadang baik episode manik maupun depresi bisa disertai dengan ciri psikotik, baik delusi maupun halusinasi. Penyebab pasti gangguan ini belum diketahui, namun kombinasi faktor genetika, biologi dan lingkungan berperan untuk terjadinya gangguan ini,” sebutnya.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk menolong orang orang yang diduga mengalami gangguan bipolar ? Dijabarkan dr Elmeida pertama pahami dan cari informasi lebih banyak tentang gangguan ini. Kedua berikan dukungan pada mereka, rangkul mereka, dekati dan jangan menghakimi mereka.

“Ajak dan temani mereka  berkonsultasi dengan profesional atau psikiater. Lalu, sediakan waktu untuk mereka, agar mereka tidak merasa terstigma dengan kondisi ini,” terangnya.

Dr Elmeida menambahkan banyak tokoh yang mengalami gangguan bipolar ini antara lain Ludwig Beethoven, Isaac Newton, Ernest Hemingway, Mariah Carey, Catherine Zeta Jones.

“Bahkan Hari Bipolar Sedunia ini juga merupakan tanggal kelahiran Vincent Van Gogh, pelukis terkenal yang juga mengalami gangguan bipolar,” pungkasnya. (*)

Konten Terkait

Perkembangan Covid-19 Sumut: Pasien Meninggal Bertambah Lagi

admin2@prosumut

Dinas Kesehatan Sumut dan Medan Kolaborasi Luncurkan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Puskesmas

Editor prosumut.com

Pentingnya Relawan Emergensi, Minimalisir Dampak Kesehatan Korban Bencana

Editor prosumut.com

Datang Dari Zona Merah Covid-19, Dua Pria Diperiksa Dinkes Labuhanbatu

admin2@prosumut

Tak Kenal Maka Tak Kebal Bukan Sekadar Jargon

Pro Sumut

Pembangunan Gedung Baru RSUD Pirngadi Medan Butuh Bantuan Dana Rp600 Miliar Lebih

Ridwan Syamsuri
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara