Prosumut
Ketua KPK Agus Rahardjo (tengah) berfoto bersama dengan empat Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan (kedua kanan), Laode Muhamad Syarif (kanan), Saut Situmorang (kiri) dan Alexander Marwata (kedua kiri) usai acara peresmian penggunaan Gedung KPK di Jalan Kuningan Persada, Kavling C4, Jakarta Selatan, Selasa (29/12). Gedung KPK yang berjuluk gedung Dwi Warna tersebut memiliki 16 lantai dengan luas 8.000 meter persegi serta mengusung konsep "Secure, Smart, and Green" yang akan diberlakukan KPK dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/aww/15.
Pemerintahan

KPK Dudukkan Substansi Potensi Kebocoran Rp 2.000 Triliun

PROSUMUT – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengklarifikasi soal pernyataan potensi kebocoran Rp 2.000 triliun yang “digoreng” menyusul eskalasi politik yang semakin tajam dalam sepekan terakhir.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menganggap calon presiden Prabowo Subianto salah persepsi ketika mengutip pernyataan dari lembaganya tentang kebocoran anggaran negara mencapai Rp 2.000 triliun.

Padahal, Prabowo sudah terlanjur mengungkapkan kegembiraannya karena merasa didukung KPK.

Dia menerangkan, KPK tidak bermaksud mengatakan terjadi kebocoran pengeluaran anggaran. Lembaga anti-rasuah hanya menyebut potensi pendapatan negara yang bisa dicapai.

BACA JUGA:  Rico Waas dan Zakiyuddin Kompak di Ruang Publik

“Itu sebenarnya arti yang mungkin salah persepsi. Saya pikir itu ya,” kata Saut dilansir Warta Ekonomi di Gedung KPK, Jakarta, Selasa 8 April 2019.

Saut mengatakan, saat ini pendapatan negara mencapai Rp 2.400 triliun. Hal itu berdasarkan data dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (ABPN).

Namun, kata dia, pendapatan negara itu belum maksimal. Negara bisa meningkatkan pendapatan hingga mencapai Rp 4.000 triliun.

BACA JUGA:  Rico Waas dan Zakiyuddin Kompak di Ruang Publik

“Jadi, kekurangannya sekitar Rp 2.000 triliun. Jadi itu bukan kebocoran, (tapi) potensi. Jadi berpikiran bukan saya, kami juga dalam diskusi banyak tempat itu bukan soal kebocoran,” ujar dia.

Saut mengatakan, pemerintah akan menerima banyak manfaat jika pendapatan negara bisa maksimal hingga mencapai Rp 4.000 Triliun.

Anggaran maksimal itu, kata dia, bisa menutup defisit BPJS dan meningkatkan dana desa.

BACA JUGA:  Rico Waas dan Zakiyuddin Kompak di Ruang Publik

Saut berharap pemerintah mengusahakan peningkatan pendapatan negara dari berbagai sektor.

Negara harus mencontoh Pemprov DKI yang mampu menambah pendapatan daerah hingga Rp 7 triliun setelah didampingi KPK.

“Jadi, kami mau kejar Rp 4.000 triliun APBN. Anda bayangkan tuh berapa lagi MRT yang harus kita bangun. Jadi, bukan kehilangannya itu yang disebutkan. Jadi, salah mempersepsikan apa yang disampaikan oleh Ibu Basaria,” ungkap dia. (*)

Konten Terkait

Kelurahan Anggrung Masuk 5 Besar Terbaik se-Sumatera 2019

Ridwan Syamsuri

1 Orang Batak Lolos Capim KPK, Kini “Bola” di Tangan Jokowi

Val Vasco Venedict

Pemko Medan Lelang Jabatan Kepala BPKAD

Ridwan Syamsuri

Walikota Tebingtinggi Terbitkan SE Larangan Mudik Idulfitri 2021

Editor prosumut.com

RSUD Salak, Pakpak Bharat Miliki Spesialis Forensik

Editor prosumut.com

Konflik Harimau Sumatera, Pemilik Hewan Ternak tak Dapat Kompensasi

Editor Prosumut.com
PROSUMUT
Inspirasi Sumatera Utara