Prosumut
Pendidikan

Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Sumut 2023, Stimulus Penutur Muda Lestarikan Bahasa Daerah

PROSUMUT – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara mengadakan Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2023.

Festival ini digelar di Asrama Haji Medan selama tiga hari. Dalam festival tersebut, diikuti kalangan pelajar tingkat SD dan SMP sederajat dari 10 kabupaten/kota di Sumut.

Turut hadir, undangan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Utara, para Kepala Dinas Pendidikan dari sepuluh kabupaten/kota beserta jajaran, para budayawan, tokoh adat, sastrawan, orang tua dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbudristek, Dr Muh Abdul Khak menyampaikan, bahasa daerah (bahasa ibu) punah karena para penutur mudanya tidak lagi menggunakan bahasa tersebut. Begitu juga para orang tua tidak lagi mewariskan bahasa itu kepada anak-anaknya.

Untuk itu, bahasa daerah harus dipakai secara meluas, terutama oleh para penutur muda. Hal itu merusak prinsip revitalisasi yang tepat guna.

“Festival Tunas Bahasa Ibu bukanlah tujuan utama dalam revitalisasi bahasa daerah dan bukan pula hanya sekadar euforia semata.

Namun, kegiatan-kegiatan berbentuk festival atau lomba mempunyai daya tarik tersendiri bagi anak-anak saat ini.

Karena itu, kegiatan revitalisasi bahasa daerah diramu dalam bentuk festival atau lomba,” ungkap Abdul saat membuka kegiatan festival tersebut, Rabu 15 November 2023.

Menurut dia, anak-anak zaman sekarang sangat senang dengan kegiatan yang berbentuk kompetisi karena bagi mereka persoalan kalah menang adalah hal yang biasa.

“Terpenting bagi mereka adalah kegiatan yang heboh, semarak, asyik, dan memiliki tantangan.

Jadi, kegiatan festival atau lomba seperti ini merupakan stimulus atau pancingan bagi anak-anak sekarang agar mereka lebih antusias dan lebih semangat dalam memproduksi bahasa daerah,” jelasnya.

Lebih lanjut Abdul menyampaikan, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim telah meluncurkan Merdeka Belajar episode ke-17 dengan judul ‘Revitalisasi Bahasa Daerah’. Tujuannya, agar tunas-tunas muda melestarikan bahasa daerah.

“Penurunan bahasa daerah harus dimulai dari tingkat pendidikan yang paling kecil, makanya dimulai dari tingkat SD dan SMP. Harapannya, lewat jalur sekolah ini dampaknya lebih masif,” jelas Abdul.

Ia mengakui untuk tingkat SMA/SMK memang belum ada festival seperti itu. Artinya, festival ini masih dalam kategori permukaan, baru tiga tahun berjalan sehingga hanya tingkat SD dan SMP.

Meski begitu, ke depannya akan dilihat apakah memang tingkat SMA/SMK juga perlu diadakan festival tersebut.

Abdul menambahkan, ada sebuah kajian yang telah dilakukan di Balai Bahasa Jawa Barat selama dua tahun terhadap 900 keluarga Sunda-Sunda pada sembilan kabupaten. Tidak sampai 40 persen, keluarga itu dengan sadar menurunkan bahasa Sunda kepada anak-anaknya.

Fakta itu tentunya mencengangkan. Namun, mereka malah beralih ke bahasa Indonesia. Padahal, seharusnya ranah rumah tangga itu tempat bertahannya bahasa daerah.

Jika rumah tangga sudah menggunakan bahasa Indonesia, maka tinggal menunggu waktu saja bahasa daerahnya pasti punah.

“Ini perlu dukungan oleh seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan melakukan upaya untuk mempertahankan bahasa daerah. Artinya, bahasa daerah itu penting untuk dilestarikan,” pungkas Abdul.

Sementara itu, Kepalai Balai Bahasa Sumut Hidayat Widiyanto mengatakan, Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Sumut tahun ini menghadirkan 140 penampil dari 10 kabupaten/kota.

Selain itu, juga melibatkan akademisi, tokoh adat, pakar, dan maestro budaya setempat pada prosesnya sampai pada tahap ini.

“Kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu juga sebelumnya sudah dilaksanakan di tingkat kabupaten.

Pada prinsipnya, kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat sekolah, kecamatan, lalu ke tingkat kabupaten, dan berakhir di tingkat provinsi.

Sebanyak 28 peserta terbaik di tingkat provinsi akan dikirim ke tingkat nasional untuk mengisi kegiatan selebrasi Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2024,” kata Hidayat.

Dia menyebutkan, ada tujuh materi yang difestivalkan dalam festival tingkat provinsi. Akan tetapi, semua itu bergantung kondisi kebahasaan di daerah masing-masing.

Karena itu, materi yang difestivalkan menyesuaikan dengan bahasa daerah masing-masing.

Ketujuh materi itu adalah membaca dan menulis aksara daerah, menulis cerita pendek, membaca dan menulis puisi (sajak), mendongeng, pidato, menyanyi atau tembang tradisi (pupuh, macapat), dan komedi tunggal (stand up comedy).

“Harapannya dengan dilaksanakannya kegiatan festival ini, penutur muda akan menjadi penutur aktif bahasa daerah dan mereka mempelajari bahasa daerah dengan penuh sukacita melalui media yang mereka sukai sesuai konsep Merdeka Belajar.

Dengan demikian, kelangsungan hidup bahasa daerah tetap terjaga dengan menciptakan ruang kreativitas dan kemerdekaan bagi para penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasa daerahnya,” tandas Hidayat. (*)

Editor: M Idris

Konten Terkait

Sekolah Parulian Gelar Pelatihan Literasi Digital

Editor prosumut.com

Selama Belajar Daring, Partisipasi Siswa Memburuk!

valdesz

Ijeck Minta Beasiswa Harus Merata di Masyarakat

Editor prosumut.com