Prosumut
Berita

Sosialisasi Protokol CHSE di Masa Pandemi, Beginilah Optimisme Pelaku Bisnis Event & Wisata di Sumut

PROSUMUT –  Penerapan protokol sertifikasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) menjadi salah satu kunci solusi menghidupkan kembali event-event musik dan wisata di Sumatera Utara (Sumut) pada masa pandemi Covid-19.

Kebijakan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut juga dianalogikan sebagai oase di tengah keringnya bisnis event dalam dua tahun terakhir akibat pembatasan yang sangat ketat.

Nada optimisme itu disampaikan Direktur Toba Caldera World Festival, Irwansyah Harahap dan Event Planner Konser Musik, Glenn Biondi Hutajulu dalam acara Sosialisasi Cerita Protokol CHSE (CERPEN) di U9 Bar & Lounge, Hotel King’s Palace Jalan Abdullah Lubis, Medan, Rabu 13 Oktober 2021.

Baik Irwansyah maupun Glenn adalah sosok yang berpengalaman dalam menggelar konser musik dengan konsep outdoor (luar ruang) yang menggabungkan sensasi menikmati musik berkualitas dengan keindahan panorama Danau Toba.

Sebelum masa pandemi, konser-konser mereka dipadati ratusan hingga ribuan penonton.

Irwansyah, yang dalam waktu dekat berkunjung ke Portugal bersama musisi kontemporer Franki Raden untuk menyaksikan pergelaran world musik festival, menyatakan panduan CHSE adalah terobosan agar dunia event kembali menggeliat akibat situasi pandemi yang masih belum stabil.

Kendati bagi sebagian pelaku bisnis event, protokol CHSE dianggap sebagai ketentuan yang sangat merepotkan, namun upaya itu adalah strategi terbaik agar pelaku bisnis event tidak dituding sebagai biang kerok melonjaknya angka penularan Covid-19.

BACA JUGA:  Soal Penggerebekan Narkoba di USU, Meryl: Bentuk Satgas & Perbanyak Duta Anti Narkoba

“Saya melihat CHSE ini justru kunci penyelamat pebisnis event. Sulit sekali kita bisa hidup kembali jika tidak ada supporting kebijakan yang jelas dan terukur. Di Eropa justru protokolnya lebih ketat lagi. Tapi kita lihat mereka bisa melewati masa-masa pandemi ini. Jadi situasinya bukan new normal lagi, tapi new norm. Kita hidup dalam norma baru dengan lebih memahami cara-cara memutus rantai Covid-19, ya tentunya semua ini untuk kehidupan bisnis event yang lebih baik,” papar Irwansyah.

Adapun Glenn optimistis protokol CHSE akan dipatuhi secara baik karena kebijakan ini adalah pintu masuk para pelaku bisnis wisata untuk kembali bekerja dan berkreativitas.

Dia mengakui Protokol CHSE pasti akan sulit diterapkan di awal-awal karena pelaku bisnis berhadapan dengan karakter masyarakat yang berbeda-beda.

Namun dengan semangat untuk menghidupkan kembali bisnis event dan wisata, Glenn yakin para pelakunya juga akan sangat supportif dan kolaboratif dengan aturan-aturan yang diterapkan pemerintah daerah.

“Saya mengistilahkan CHSE ini adalah kartu pass kita memasuki kembali bisnis event dan wisata yang mati suri dalam dua tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Eddy Wardoyo mengungkapkan saat ini dampak dari pandemi Covid-19 membuat dunia pariwisata sangat terpuruk akibat tidak boleh beroperasi.

BACA JUGA:  Pembangunan di Sumut Mau Cepat? Baskami: Gubernurnya Harus Kader PDIP!

Untuk mencegah penyebaran virus covid-19, pemerintah memiliki kebijakan agar tidak membolehkan pergelaran event ataupun membuka tempat wisata agar tidak terjadi kerumunan.

Hanya saja, sekarang pemerintah sudah membolehkan dunia pariwisata untuk kembali bergeliat dengan membuka lokasi wisata dengan protokol kesehatan.

Sebagai otoritas di bidang pariwisata di Indonesia, Kemenparekraf berusaha memulihkannya melalui sosialisasi penerapan Protokol CHSE di beberapa destinasi pariwisata.

“Sumatera Utara adalah salah satunya, Tujuannya adalah membangun kembali kepercayaan masyarakat untuk kembali berkunjung ke lokasi wisata secara aman, nyaman, sehat dan bersih. Protokol Cleanlines, Health, Environmental Sustainibility atau CHSE menjadi dasar penerapan Kemenparekraf di berbagai destinasi pariwisata di seluruh Indonesia,” jelasnya .

Eddy mengingatkan kunci utama bagi pelaku pariwisata dan ekonomi digital agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik.

Saat ini, tambahnya, perilaku masyarakat mulai berubah, dibarengi dengan tren pariwisata yang telah bergeser seperti liburan tanpa banyak bersentuhan dengan orang lain agar tetap aman, yaitu staycation.

“Ini bisa membangkitkan usaha perhotelan. Tapi tidak cukup itu, penyedia hotel juga harus inovatif misalnya menawarkan paket WFH, melengkapi sertifikasi CHSE, menyiapkan outdoor dining untuk menjaga jarak. Itu salah satu contoh,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pembangunan di Sumut Mau Cepat? Baskami: Gubernurnya Harus Kader PDIP!

Eddy meyakinkan Kemenparekraf mendukung adanya peningkatan resiliensi dan daya saing usaha ekonomi kreatif melalui pemberian insentif dan akses permodalan, standarisasi usaha dan sertifikasi Protokol CHSE dan reaktivasi bisnis event dan wisata.

Selain itu, tambahnya, Kemenparekraf juga menekankan terobosan digital tourism sebagai salah satu strategi yang efektif dalam mempromosikan berbagai destinasi dan potensi pariwisata Indonesia melalui berbagai platform.

Artinya, menurut dia, digital tourism tidak hanya sekadar mengenalkan namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia.

“Tren ini merupakan inovasi dan lompatan besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia saat pandemi. Pemerintah dengan sangat senang hati membantu pelaku bisnis yang memiliki konsep yang serius,” katanya.

Saat ini, lanjut Eddy, semua aktivitas dilakukan lewat internet, mulai merencanakan perjalanan, pre-on-post journey hingga back from journey.

“Kita lihat tren bisnisnya sudah ke arah sana. Hampir seluruhnya dilakukan secara digital, bahkan membangun spot-spot wisata instagramable juga menjadi salah satu strategi mempromosikan tempat wisata secara gratis agar dapat meningkatkan wisatawan,’’ tukasnya.  (*)

Editor : Val 

Konten Terkait

Massa Kembali Gelar Aksi Bela Rohingya di Kedubes Myanmar

Pro Sumut

Metro Jaya police chief: Target Terrorists Are Symbols West

Pro Sumut

Diduga Korsleting Listrik, 2 Unit Rumah di Sipispis Ludes Terbakar 

Editor prosumut.com