Prosumut
Opini

Langkat dan Empat Destinasi Andalan

Oleh :
Defriansyah Manik,
Putera Langkat, seorang Karyawan Swasta yang pernah melakukan penelitian di Bukit Lawang, berjudul “Tinjauan Yuridis, Eksistensi Warga Negara Asing Terhadap Kepemilikian Lahan dan Bangunan, Tahun 2010. Bertempat tinggal di kota Binjai.

***

Langkat adalah nama kabupaten terletak paling utara Propinsi Sumatera Utara dan langsung berbatasan dengan Propinsi Aceh. Berjarak + 40 Km dari pusat kota Medan dan memiliki ibu kota di Stabat. Luas wilayahnya (6.262,00 Km2) merupakan kabupaten paling luas dari total 33 kabupaten/kota yang ada di Sumut, disusul Mandailing Natal (6.134,00 Km2), Tapanuli Selatan (6.030,47 Km2) dan Simalungun (4.369,00 Km2).

Menurut BPS Langkat (2017) total penduduk 1.032.330 jiwa yang tersebar pada 23 Kecamatan di 277 Desa dan Kelurahan, dengan kecamatan terpadat berada di Stabat dan terjarang berada di Batang Serangan. Topografi 0 s/d 1200 mdpl dengan garis pantai sepanjang 110 Km2. Mayoritas suku adalah Melayu, Jawa, Karo, Tapanuli, Banjar, Tiong Hoa, dll. Ragam pekerjaan masyarakatnya adalah Bertani/Pekebun, Berdagang, Buruh/Karyawan Swasta/Honorer/Wirasawata, Industri Rumah Tangga (UKM), PNS dan Pekerja Sosial (Tokoh Agama, LSM, Wartawan, dll).

Kekhasan Bidang Pariwisata;
Sedikitnya ada empat kekhasan pariwisata yang dimiliki oleh kabupaten Langkat, yaitu wisata alam dan konservasi, wisata sejarah, wisata religi dan wisata kuliner, dengan pembahasan sebagai berikut :
Wisata Alam dan Konservasi, Langkat dianugerahi potensi alam yang lengkap, mulai dari perbukitan, lembah/tebing, sungai, dataran hingga pesisir pantai dan laut. Kecamatan Bahorok dan Kutambaru memiliki destinasi hutan konservasi yang sejak dulu mahsyur yaitu Bukit Lawang, sebagai tempat rehabitat orang utan dan satwa liar lainnya, berada dalam zona sangat dilindungi pada bentang Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) bahkan lokasi ini mendapatkan perhatian serius dari Kementerian Kehutanan RI dan berbagai LSM lingkungan & satwa dunia.

Selain itu ada pula Batu Katak, Landak River, Wampu River, Water Fall dan Air Panas Simolap yang menawarkan sensasi menjelajah hutan perawan, mengamati satwa dan tumbuhan langka yang diakhiri dengan susur sungai (tubbing) berkilo-kilo meter panjangnya. Ada pula Goa Alam, yaitu Goa Batu Rizal, Goa Pintu Angin, Goa Kampret, Goa Pintu Air, Goa Simolap yang menawarkan sensasi dan keunikan ruang besar dibawah permukaan bumi dihiasi stalaktit dan stalaknit hidup dengan dinding dibasahi aliran air sepanjang tahun, ada yang memiliki pintu masuk horizontal dengan diameter mulut goa cukup lebar, ada pula yang vertikal, sempit dan lembab, yang pasti setiap goa memiliki keunikannya sendiri-sendiri.

Namun, bagi yang hanya ingin bersantai menikmati pemandangan alam, mendengar suara burung, kera dan satwa liar serta mandi dipinggir sungai dengan kesejukan mata air pegunungan disarankan bermalam, pada berbagai hotel dan penginapan yang tersedia dilokasi ini dengan fasilitas yang bervariatif sesuai budget yang dimiliki, karena sensasi terindahnya ada pada pagi dan sore hari.

Kecamatan Sei Bingei, terdapat beberapa objek wisata tergolong baru namun viral di medsos, menawarkan pemandangan indahnya perbukitan dan sunrise yaitu Rumah Pohon Habitat, Puncak Ukui, Bukit Moria, Penatapan Pamah Semelir. Wisata air yaitu pemandian Lau Kulap, Babar Sari, Air Terjun Jodoh Telagah, Kolam Abadi Rumah Galuh, Air Terjun Siluman Garunggang, Air Terjun Tongkat Pelaruga, Pemandian Alam Teroh-Teroh, Pantai Florida Namu Ukur, Bendungan Namu Sira-Sira dan Arung Jeram, dll.

Di Kecamatan Batang Serangan, Besitang dan Brandan Barat, ada eco wisata Tangkahan (memandikan gajah, traking hutan naik gajah, tubbing, mandi air terjun bertingkat). Di Besitang ada pula objek wisata Sikundur Indah (eco adventure, eco education & eco research) yaitu pengamatan terhadap gajah liar, rusa, harimau sumatera, orang utan dihabitat asli. Dapat pula dinikmati petualang aliran sungai Besitang dengan meggunakan perahu kecil yang biasa disewa dari warga setempat. Di Brandan Barat ada lokasi konservasi Magrove Lubuk Kertang yang merupakan area reboisasi sukses kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dengan luas hampir 500 Ha.

Sedangkan untuk wisata budaya dan sejarah dapat ditemui di kecamatan Tanjung Pura, berjarak 20 Km dari kota Stabat yang merupakan pusat pemerintahan kesultanan Langkat masa lampau, sayangnya banyak peninggalan sejarah telah rusak, terutama akibat pembakaran dan penjarahan pada revolusi sosial 1946 sehingga hanya sedikit yang tersisa, yaitu Masjid Azizi, Museum Amir Hamzah (bekas gedung kerapatan adat Kesultanan Langkat), pusara Pahlawan Nasional T. Amir Hamzah serta komplek pemakamaman para raja Langkat yang letaknya berdekatan.

Di Padang Tualang ada kampung religi bernama Besilam, tempat dimana seorang tokoh agama islam kharismatik pertengahan abad 19 s/d awal abad 20 mengajar ilmu agama serta membentuk satu perkampungan khusus, bernama Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Halidi An-Naqsyabandi atau lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Babusallam. Ia merupakan ulama besar Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah murid Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah – Arab Saudi. Lahir di Kampar Riau, pada tahun 1811 dan wafat di Besilam Langkat pada tahun 1926 (usia 115 Tahun).

Setiap tahunnya perkampungan Besilam ini selalu didatangi oleh ribuan orang dari berbagai propinsi bahkan manca negara yaitu untuk memperingati haul (wafatnya) tuan guru dan meminta doa serta karomah dari tempat ini. Bahkan tokoh nasional pun pernah datang, mulai dari Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga Salahudin Uno, Mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla, mantan Panglima TNI sekaligus mantan Menkopolhukam Wiranto, bahkan di tahun 2018 Presiden Joko Widodo pun pernah berkunjung kesini.

Sedangkan di pesisir laut terdapat objek wisata paluh dan pantai longok di kecamatan Gebang. Pulau kapai dan pulau sembilan yang terletak di kecamatan Pangkalan Susu, terkenal indah pantainya dengan arus laut relatif tenang kekhasan selat malaka, terdapat berbagai jenis ikan unggulan seperti kerapu, kakap merah, tuna, kepah, kepiting, termasuk satu yang spesial yaitu oleh-oleh terasi gurih asal pulau kampai.

Dalam hal kuliner Langkat juga memiliki beberapa jenis makanan yang mengugah selera, sebut saja Gulai Jurung Bahorok, Sayur Asam Kincung Baung dan Goreng Krispi Cencen Kw. Begumit, Ikan Segar aneka menu Stabat Sea Food, Tongseng Lembu dan Sate Kambing Pangkalan Berandan. Mie Rebus, Soto, Ikan Bakar dan Cemilan Roti Bakar Istimewa, Bolu Gulung Mini, Dodol Tanjung Pura serta Aneka Keripik dan Manisan di Gebang. Untuk buah-buahan ada Durian Bahorok, Jeruk Pantai Buaya, Pisang Barangan, Rambutan, Cempedak, Kelapa, sedangkan untuk sayur-mayur, palawija dan hamparan sawah tersebar merata hampir disetiap kecamatan.

Edaran Bupati Langkat
Berdasarkan surat Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin-Angin, SE Nomor : 430-1028/DISPARBUD-LKT/2020 tertanggal 02 Juli 2020 dinyatakan terhitung sejak tanggal 04 Juli 2020 membuka kembali empat destinasi wisata, yaitu Bukit Lawang, Batu Katak (Bahorok), Tangkahan (Batang Serangan) dan Pangkal Namu Sira-sira (Sei Bingei). Sedangkan untuk destinasi lainnya masih menunggu evaluasi dan informasi selanjutnya, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan menuju kondisi normal baru.

Dengan segala potensi destinasi wisata yang dimiliki Langkat, kedepannya mejadikan daerah semakin ramah terhadap wisatawan yaitu benar-benar memperhatikan dan menjalankan prinsip Sapta Pesona meliputi keamanan harus terjamin. Ketertiban terkait pengaturan tempat, mobilisasi orang, sarana prasarana, parkir, jalur transportasi, dll.

Kebersihan adalah aspek yang tidak tertawar dan merupakan kolaborasi aktif antara pengelola dengan pengujung. Kesejukan adalah satu suasana nyaman karena banyaknya pepohonan rindang, rumput yang terawat dan penataan lingkungan yang baik. Keindahan dapat diciptakan melalui penyediaan fasilitas pendukung, perbanyak bunga dan tanaman hias termasuk penataan tempat yang apik dan menarik agar instagramable. Keramah-tamahan adalah sikap pelayanan dari pengelola wisata, yang senantiasa berkomitmen memberikan service terbaik berupa kecepatan, kesigapan, seyum, sapa, jujur dan budaya senang melayani.

Kenangan, menurut penulis adalah gabungan dari enam komponen diatas yang saling sinergi, yaitu sang wisatawan merasa keamananannya terjamin, lokasi yang dikunjunginya tertata rapi, tertib, bersih, sejuk dan indah serta sikap ramah yang selalu terjaga membuat kesan yang dalam pada destinasi yang dikunjungi, tentu disempurnakan pula dengan cindera mata (souvenir) lokal yang khas berupa baju, kerajinan tangan penduduk setempat, makanan ringan untuk oleh-oleh, termasuk ketersediaan guide dan photografer bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Semoga dengan dibukanya kembali empat destinasi wisata Langkat akan memberikan kontribusi positif menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara perlahan dan mudah-mudahan segera diikuti pula destinasi lainnya dengan catatan kita masih harus tetap waspada terhadap ancaman Covid 19 yang selalu mengintai.

 

Artikel ini adalah opini pribadi penulis dengan judul asli: “Langkat Buka Kembali Empat Destinasi Andalan”. Khusus ditulis untuk Prosumut.com.

Konten Terkait

Peta Jalan & Arah Konfigurasi Baru Polri: Pengabdian Bagi Indonesia Maju

admin@prosumut

Surat kepada Anies…

Val Vasco Venedict

Pro & Kontra Eksistensi BPR Pada Era Digital: Apakah Masih Relevan?

admin2@prosumut