Prosumut
Ekonomi

Juni, Sumut Diperkriakan Deflasi

PROSUMUT – Berdasarkan pergerakan sejumlah harga kebutuhan pokok selama sebulan terakhir, Sumut diperkirakan mengalami deflasi pada bulan Juni tahun ini.

“Saya memperkirakan Sumut akan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen hingga 0,25 persen. Namun jika kontribusi beras tidak masuk ke dalam komponen inflasi maka deflasi yang tercipta di Sumut berkisar 0,1 persen hingga 0,2 persen saja,” ujar pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, Senin 29 Juni 2020.

Disebutkan Gunawan, sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat di bulan Juni ini ada yang mengalami kenaikan. Beberapa di antaraya beras kualitas bawah, daging ayam dan telur ayam.

Untuk kenaikan harga beras dikisaran 2 persen hingga 4 persen. Sedangkan daging ayam melonjak sebanyak 24 persen dan telur ayam naik sekitar 6 persen.

Meskipun dalam 10 hari terakhir di bulan Juni, harga daging ayam mengalami penurunan namun di 20 pekan pertama harga daging ayam masih bertahan sangat mahal.

“Daging ayam sempat bertengger dikisaran Rp 42 ribu hingga Rp 45 ribu, sebelum akhirnya turun dikisaran Rp 33 ribu per kg. Selebihnya, harga daging sapi mengalami penurunan rata rata sebesar 2 persen. Harga daging sapi turun saat setelah lebaran yang memicu rata-rata penurunan, meskipun tidak terlalu besar. Komoditas pangan yang mengalami penurunan selanjutnya adalah bawang merah turun 21 persen dan bawang putih turun sekitar 23 persen,” sebut Gunawan.

Sementara itu, cabai merah dan cabai rawit turun dalam rentang 1 persen hingga 3 persen. Harga minyak goreng juga mengalami penurunan sebesar 3 persen. Kemudian, gula pasir mengalami penurunan sekitar 16 persen.

“Di sisi lain, kenaikan harga beras yang mencapai 4 persen ini bisa saja tidak memberikan kontribusi inflasi, karena belum tentu semua pedagang serentak menaikkan harga. Terlebih mayoritas masyarakat banyak mengkonsumsi beras medium ke atas, sehingga kenaikan harganya bisa saja tidak masuk dalam hitungan kontribusi inflasi,” ujarnya.

Menurut Gunawan, deflasi yang akan terjadi di wilayah Sumut nantinya menunjukan bahwa daya beli masyarakat masih bermasalah.

Sementara, dari sisi harga meskipun sempat bertahan mahal di awal bulan, namun sejumlah kebutuhan pokok yang naik tersebut pada pekan terakhir cenderung mengalami penurunan.

“Sejak kebijakan new normal dibelakukan, harga kebutuhan pokok tak kunjung mendapatkan dorongan dari konsumsi masyarakat,” ucapnya.

Dikatakannya, tren deflasi ini bukanlah berita yang menggembirakan dikarenakan ada banyak sentiment negative pelemahan daya beli masyarakat. Pemerintah harus melakukan upaya serius untuk memperbaiki daya beli tersebut.

Program bantuan pemerintah baik daerah maupun pusat sebaiknya segera dicairkan, karena skema new normal yang dihara[kan belum berjalan maksimal.

“Tren deflasi bisa saja terjadi di bulan depan, mengingat harga daging ayam, dan telur ayam masih bertahan mahal dan sedikit di atas harga keekonomiannya. Demikian juga dengan harga beras nantinya, jika di bulan Juli aktivitas ekonomi masyarakat tak kunjung berbalik menguat, maka deflasi akan tetap menghantui. Meskipun, perkiraan saya sampai hari ini, Juli Sumut akan inflasi,” cetusnya.

Dia menuturkan, penyebaran corona yang masih memakan korban dengan angka yang cenderung meningkat tetap menyisakan masalah bagi ekonomi Sumut.

“Jangan sampai di bulan Juli justru pengusaha belum sepenuhnya membuka usaha, bantuan ke masyarakat terkendala, dan daya beli terpuruk. Oleh karena itu, ini yang harus segera dihindari,” pungkasnya. (*)

 

Reporter : Rayyan Tarigan
Editor        : Iqbal Hrp
Foto            : 

Konten Terkait

Ayo Segera, Ratifikasi 7 Perjanjian Dagang Internasional

Val Vasco Venedict

Harga Bawang Bombai Lebih Mahal dari Harga Daging Segar

admin2@prosumut

Langkah Stimulus OJK Antisipasi Corona

admin@prosumut