Prosumut
Ekonomi

Ini Baru Namanya Optimistis, 45 % Orang Indonesia Yakin Pendapatannya Naik Lagi!

PROSUMUT.COM – Pemerintah Indonesia telah menerapkan pelonggaran pembatasan pada sebagian wilayah di Indonesia atau PSBB transisi.

Menyambut hal tersebut, perusahaan riset pasar Ipsos melakukan survei untuk mengetahui opini dan perilaku penduduk Indonesia di era new normal. Survei secara online ini dilakukan pada 500 responden berusia 18 tahun ke atas.

Survei tersebut antara lain menemukan, 84% penduduk Indonesia merasakan penurunan pendapatan. Bahkan 3 dari 10 orang mengaku pendapatan mereka berkurang lebih dari 50% dibanding sebelum pandemi ini.

Meski begitu, 49% masyarakat Indonesia optimistis, bahwa pendapatan mereka akan kembali meningkat dalam enam bulan ke depan, terlebih lagi pemerintah sudah menerapkan kebijakan-kebijakan pelonggaran pembatasan kegiatan perekonomian, re-opening economy.

Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos in Indonesia, mengatakan akibat pandemi Covid-19 pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada Kuartal I 2020 melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini disebabkan menurunya permintaan domestik dan konsumen rumah tangga, serta rasio investasi yang rendah.

“Namun, ketika Pemerintah mulai melakukan re-opening economy, baik sektor ritel maupun makro, kita bersama optimis akan ada perbaikan ekonomi, pendapatan masyarkat akan meningkat secara bertahap dalam 6 bulan ke depan,” jelas Soeprapto.

Ilman Hasibuan, Head of Ipsos Strategy3 Indonesia, menambahkan perekonomian Indonesia terlihat baik sejauh ini, meskipun pandemi sedang berlangsung dan berbagai pembatasan diberlakukan di sejumlah wilayah.

“Kita akan melihat perekonomian pulih secara bertahap dan dalam 6 bulan, kita setidaknya dapat melihat 80% kegiatan akan kembali seperti semula, tentu saja dengan memerapkan standar dan protokol baru untuk menjaga agar pandemi ini tetap terkendali, “tutur Ilman.

Lain halnya dari segi kekhawatiran, hasil survei ini menunjukkan 86% masyarakat Indonesia khawatir terhadap penyebaran virus Covid-19. Kendati demikian, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sudah mampu beradaptasi dengan rutinitas baru dan bergerak maju di era new normal.

Bahkan hampir separuh masyarakat Indonesia mengaku pada bulan Juni – Juli mulai memberanikan diri, percaya, dan dapat merasa nyaman untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti makan di restoran atau café,

mengunjungi rumah kerabat atau teman, menggunakan sarana transportasi umum, pergi ke acara pertemuan atau gathering, pergi ke pusat kebugaran atau gym.

Namun untuk melakukan perjalanan dalam negeri atau domestik, mereka masih enggan melakukannya dalam waktu dekat.

Sebagian kecil akan melakukan perjalanan pada periode Agustus – Desember 2020 dan sebagian besar masih tidak nyaman untuk melakukan perjalanan bahkan hingga tahun depan.

Begitu pula dengan perjalanan ke luar negeri, 66% masyarakat Indonesia memilih untuk tidak pergi ke negara lain di tahun 2020 ini.

Selain mempengaruhi pendapatan, pandemi Covid-19 juga merubah pola perilaku masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi, baik dari prioritas pilihan produk maupun saluran pembelian produk.

Pada hasil survei terlihat adanya peningkatan anggaran pengeluaran untuk membeli bahan makanan sebanyak 34%, produk kebersihan 24%, dan produk perawatan diri atau personal care bertambah 6% dibandingkan sebelum pandemi.

Sedangkan anggaran untuk pembelian produk fashion (pakaian dan aksesoris), elektronik, buku, mainan anak, video games, minuman keras, liburan, pergi ke café dan restoran, serta melakukan aktivitas terkait kebudayaan menurun cukup signifikan hingga 30%.

Begitu juga dengan produk perawatan diri (personal care) dan produk kebersihan, dengan masing-masing persentase 53%. Jalur pembelian (purchase channel) pun berubah signifikan, di mana 62% masyarakat Indonesia memilih untuk membeli kebutuhan pokok dan bahan makanan secara online dibandingkan jalur konvensional seperti sebelum pandemi.

“Ketika mayoritas perilaku pembelian (purchasing behaviour) telah berubah selama pandemi, ada aspek belanja ritel dan offline shopping yang masih tidak tergantikan dan akan mendorong paling tidak sebagian konsumen kembali berbelanja secara offline seperti ‘mall culture’ di Indonesia, ini dapat dilihat dari banyaknya orang di mall-mall yang saat ini sudah kembali beroperasional. Baik pemasar dari lingkup online ataupun offline perlu memperhatikan hal ini,” papar Ilman.

Lebih jauh, dalam survei diketahui ada 10 perusahaan yang dinilai paling peduli dan memberikan dukungan terhadap Pemerintah maupun masyarakat Indonesia dalam menghadapi krisis selama pandemi Covid-19.

Perusahaan-perusahaan tersebut secara berurutan dari peringkat tertinggi hingga kesepuluh adalah Unilever, Gojek, Grab, Indofood, Pertamina, Tokopedia, Wardah, Shopee, Wing Group, dan MNC Group. (*)

Sumber : Marketing.id
Editor : Val Vasco Venedict
Foto : Net

Konten Terkait

Kinerja Perusahaan Pialang Ini Melejit di Semester I 2019

admin@prosumut

Cabai Merah Turun, Medan Alami Deflasi 0,28 Persen

admin2@prosumut

GOJEK SWADAYA, Kelak Bikin Mitra Gojek Medan Makin Sejahtera

Val Vasco Venedict