Prosumut
Kesehatan

Tanya Jawab Seputar Uji PCR Covid-19 RS USU

PROSUMUT – Laboratorium RS USU Medan kini mejadi tempat untuk melakukan uji sampel (sapesimen) bagi pasien yang terindikasi virus Korona (Covid-19) di Sumatera Utara (Sumut). Sudah 541 orang yang diperiksa hingga hari ini, Kamis 7 Mei 2020.

Bagaimana para tenaga kesehatan tersebut bekerja untuk memeriksa sampel pasien sebelum memberiktahukan hasil negatif atau positif Covid-19 bagi warga Sumut? Berikut wawancara khusus Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut Mayor Kes dr Whiko Irwan kepada Ketua Tim Lab Pemeriksa Covid-19 RS USU, dr Dewi Indah Sari Siregar di media center GTPP Covid-19 Sumut, Kantor Gubernur yang disiarkan langsung di jaringan akun Humas Sumut.

Sudah berapa banyak specimen di RS USU mulai awal dibuka sampai hari ini?
“Per hari ini kami sudah memeriksa 541 sampel yang tersebar dari seluruh daerah di Sumut.
Berapa kapasitas per hari untuk pemeriksaan?
-Dalam keadaan normal kita bisa melakukan pemeriksaan sampai dengan 96 sampel per hari. Sampai saat ini jumlahnya sekitar 50 yang positif”.

Alat apa yag digunakan di Lab PCR USU dan bagaimana pengadaannya?
“Jadi untuk melakukan pemeriksaan PCR ini dia terdiri dari dua langkah. Pertama pemeriksaan pre PCR, itu dilakukan ekstraksi, kemudian PCR dengan menggunakan PCR. Alhamdulillah USU memang sudah mempunyai mesin PCR. Alat ekstraksi yang sifatnya otomatis juga USU punya. Jadi itu sangat membantu kami dalam pemeriksaan. Jadi untuk bahan-bahannya sebagian dibeli oleh USU, sebagian dengan bantuan dari Menristek Dikti, kemudian dari Litbang Kemenkes dan BNPB.

Artinya fase pemeriksaan itu yang pertama adalah pengambilan sampel dengan swab, kemudian dimasukkan ke virus transport media (VTM), selanjutnya ekstraksi virus dan terakhir PCR”.

Apakah metode yang digunakan lab USU ini sama dengan yang digunakan oleh Litbangkes Kemenkes?
“Metode yang digunakan di seluruh Indonesia saya rasa sama semuanya. Karena dalam melakukan pemeriksaan tetap harus berkoordinasi dengan puslitbangkes, baik itu mengenai hasil, mengenai kualitas pengendalian dan pemantapan kualitas eksternal, itu tetap berkoordinasi dengan puslitbangkes”.

Mengenai swab, bagaimana kita bisa mendapatkan swab dari penderita, apakah harus dari tenggorokan, mulut atau hidung?
“Jadi swab ini bisa berasal dari dua tempat. Pertama nasofaring dan orofaring. (nasofaring cairan tenggorokan bagian atas dan orofaring cairan tenggorokan bagian tengah). Dua ini akan dimasukkan ke dalam VTM, bila tidak ada kita gunakan Universal TM. Kemudian nanti dikirimkan ke lab pemeriksa. Pengiriman bekerjasama dengan dinkes daerah dan provinsi”.

Ada pemeriksaan hasilnya negatif, tetapi pemeriksaan berikutnya positif. Apa yang menyebabkan itu?
“Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan perbedaan antara swab 1 dan 2 dan 3. Pertama adalah pre analytic, yakni teknik pengambilan sampelnya, bagaimana penyimpadan VTM, bagaimana cara pengiriman VTM, sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Kemudian kapan dilakukan swab, apakah terlalu awal, atau mungkin terlambat. Bisa saja pasien rapidnya positif, kemudian beberapa hari baru diperiksa, hasilnya bisa negatif. Salah satu yang menyebabkan hasil berbeda itu ya tadi”.

Kemudian adakah faktor yang menyebabkan hasilnya positif dengan misalnya varian virus?
“Memang pemeriksaan PCR kita gunakan gen, itu yang diperiksa. Jadi menurut standar, ada beberap gen yang direkomendasikan, seperti gen n1,n2 dan n3, RDRP (RNA-dependent RNA Polymerase). Itu yang direkomendasikan WHO. Pemeriksaan gen ini bukan untuk melihat Covid-19 saja, contohnya seperti gen E, bisa juga dari Sars, Mers. Tetapi pada masa pandemi sekarang ini, kita memang diminta meningkatkan sensitifitas”.

Banyak masyarakat ingin tahu apakah mereka terinfeksi atau tidak. Jika ingin periksa ke USU apa syaratnya?
“RS USU membuka pasien atau warga yang mencurigai dirinya terkena Covid-19 ini untuk datang ke sini. Nanti ada tim khusus yang bertugas untuk menscreening akan ada wawancara di awal, apakah ada keluhan, riwayat kontak kemudian dari situ dapat peniliana apakah pasien masuk dalam kriteria ODP, PDP, OTG atau bahkan kontak erat.
Yang ini bisa dilakukan rapid test, walaupun negatif, tetapi memenuhi kriteria yang keempat, pasien tetap bisa dilakukan pemeriksaan swab. Kalau dia cuiga, boleh datang ke puskesmas, nanti puskesmas yang screening. Kalau mau datang langsung, kita buka dari jam 10.00 – 12.00 WIB untuk screening dan swab”.

Soal biaya, biayaberapa perkiraannya dan siapa yang menanggung?
Bisa Rp1-2 Juta per satu specimen, tergantung produsen yang menghasilkan reagentnya. Sampai sekarang RS USU tidak menarik biaya untuk masyarakat. Keseluruhan biaya ditanggung USU, Mendikbud dan bantuan pusat serta Pemprov Sumut”.

Jika Laboratorium RS USU bisa PCR, kenapa tidak bisa langsung dipublish?
“Pelaporan hasil wajib melaporkan ke Litbangkes melalui sistem daring, kemudian ke dinas kesehatan. Dapat juga dikirimkan ke RS yang merujuk”.

Apakah ada kendala dari Laboratorium?
“Karena setiap hari saya seperti naik roller coaster, sebentar naik kemudian turun, naik lagi. Sementara persediaan regensi kita cukup satu hari. Namun ini mendunia, bukan kita saja.
Mulai dari VTM, kit ekstraski, kita PCR. Jadi reagen (reagensia : larutan zat dalam komposisi dan konsentrasi tertentu yang digunakan untuk mengenali zat lain yang belum diketahui sehingga diketahui isi zat lain tersebut), ini yang memang susah mendapatkannya. Punya uang pun belum tentu bisa dapat. Kemudian jika ada reagen jenis baru kita harus ulang uji coba lagi. Kalau sesuai dianggap baik, baru kita tangani pasien”.

Sejauh ini, Lab PCR RS USU menjadi tumpuan. Apakah sudah pernah menyampaikan ke Gugus Tugas Covid-19 Sumut agar supaya pasokan reagensia bisa terpenuhi?
“Kita terus berkoordinasi, juga sudah audiensi ke Gubernur. Semua pihak sudah bekerja semaksimal mungkin, tetapi memang barangnya susah dicari”.

Apakah lab USU ada upaya membuat vaksin?
“Untuk itu kita harus menumbuhkan virus, memerlukan faslitas yang lebih lagi. Jadi belum bisa. Cara yang dilakukan adalah plasma, yakni darah dari yang sembuh diberikan kepada pasien yang masih dirawat”.

Demikian petikan wawancara Mayor Kes dr Whiko Irwan kepada dr Dewi Indah Sari Siregar yang juga menjabat Direkur Adm Umum, SDM dan Keuangan RS USU. (*)

 

Reporter : Iqbal Hrp
Editor        : Iqbal Hrp
Foto            :

Konten Terkait

Satu Lagi Warga Tebingtinggi Positif Covid-19 Meninggal Dunia

admin2@prosumut

Periksa di RS USU Medan, Soekirman Negatif Covid-19

admin2@prosumut

Bersama Muspika Perbaungan, Anggota DPRD Sergai Disinfektan Fasum

admin2@prosumut