Prosumut
Sepakbola Sport

Ini Dia Para Pemilik Klub Luar, Dari Ustadz Hingga Mantan Cawagub Sumut

PROSUMUT – Erick Thohir sempat menggegerkan publik Tanah Air ketika mengakuisisi saham Inter Milan sebesar 70 persen yang sebelumnya dimiliki oleh Massimo Moratti.

Lalu, ada Yusuf Mansur yang memiliki 10 persen saham milik Lechia Gdansk.

Thohir membeli Inter Milan pada 2013 silam. Menurut data dari Forbes, petinggi Persib Bandung itu menggelontorkan dana mencapai 480 juta dolar AS (saat itu kurs masih Rp6,7 triliun).

Namun, kekuasaan Thohir hanya bertahan tiga tahun saja. Pada 2016, ia melepas 39 persen sahamnya ke Suning Group, perusahaan multinasional asal China.

Pada Januari 2019, Thohir menjual seluruh sahamnya yang tersisa 31 persen di Inter Milan kepada perusahaan asal Hong Kong Lion Rock. Haknya di La Beneamata pun sudah tidak ada lagi.

Sebelum membeli saham mayoritas Inter, Thohir juga sempat diakuisisi klub Major League Soccer (MLS) atau Liga Utama Amerika Serikat, DC United pada 2012.

Thohir bersama rekannya, Jason Levien, membeli saham DC United sebesar 78 persen.

Kebersamaannya bersama DC United berakhir pada Agustus 2018. Semua sahamnya dipegang oleh Levien, sementara Thohir hanya berstatus co-president bersama Stephen Kaplan.

Yusuf Mansur, ustadz kondang Indonesia, melalui perusahaan financial technology (fintech) miliknya, Paytren juga memiliki sekira 10 persen saham Lechia Gdansk.

Klub asal Polandia itu adalah tempat Egy Maulana Vikri menimba kariernya saat ini.

Disebut-sebut, Yusuf Mansur harus merogoh kocek sebesar 2,5 juta euro (Rp41 miliar) untuk memiliki saham minoritas di Gdansk. Ia membelinya pada 2018 silam.

Selain Erick Thohir dan Yusuf Mansur, berikut ini orang-orang kaya Indonesia yang memiliki, atau pernah memiliki saham di klub-klub luar negeri.

1. Hartono (Djarum Group) – Como 1907
Djarum Group, melalui SENT Entertainment LTD, menginvestasikan manuver bisnisnya dengan membeli klub Serie C, Como 1907.

Dikutip dari Laprovincia di Como, perusahaan ini dikuasai oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang.

Keduanya adalah pemilik Djarum dan masuk deretan orang paling kaya di Indonesia. Menurut kabar yang berhembus di Italia, Hartono dan Bambang sudah melakukan negosiasi sejak April 2019.

Suntikan dana dari duo Djarum itu tak lepas dari usaha Como yang tengah bangkit pada 2017 pasca dinyatakan bangkrut pada 2004. Padahal, pada musim 2002-2003, mereka sempat merasakan atmosfer Serie A.

2. Santini Group – Tranmere Rovers
Santini Group merupakan perusahaan Indonesia yang dimiliki oleh Wandi, Lukito, dan Paulus Wanandi. Ketiganya memutuskan untuk membeli saham klub League One, Tranmere Rovers pada 2019 silam.

Dikutip dari laman resmi klub, meski tidak dijelaskan berapa besaran saham atau uang yang dikeluarkan untuk membeli Tranmere Rovers, Santini Group menguasai saham mayoritas klub Inggris tersebut.

Namun, usia kepemilikan tidak berlangsung lama. Hanya setahun, ia melepas seluruh sahamnya kepada pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, yang juga pemilik King Power, sponsor utama Leicester.

4. Imam Arif – Leicester City
Juara Premier League 2015-2016, Leicester City juga pernah dimiliki oleh Imam Arif, seorang pengusaha Indonesia. Pada 2011 silam, ia memiliki 20 persen saham klub.

Namun, usia kepemilikan tidak berlangsung lama. Hanya setahun, ia melepas seluruh sahamnya kepada pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, yang juga pemilik King Power, sponsor utama Leicester.

5. Bakrie Group – CS Vise, Brisbane Roar
Bakrie Group sempat menguasai klub asal Belgia, CS Vise pada 2011. Beberapa pesepak bola Indonesia seperti Alfin Tuasalamony, Syamsir Alam, Yericho Christiantoko, dan Yandi Sofyan pernah berguru di sana.

Namun, pada 13 Mei 2014, Bakrie Group menjual seluruh sahamnya kepada investor asal Inggris karena masalah finansial.

Bakrie Group menempatkan putra sulung Nirwan Dermawan Bakrie yakni Andika Nuraga Bakrie sebagai Presiden klub. Sedangkan posisi Wakil Presiden klub ditempati oleh Rahim Soekasah.

Selain Vise, Bakrie Group juga sempat mengakuisisi Brisbane Roar, klub asal Australia.

Namun, klub tersebut juga akhirnya dijual kembali. Persoalannya pun serupa, yakni finansial.

Indikasi ke arah sana terlihat dengan keterlambatan pembayaran gaji selama dua minggu yang dialami pemain dan staf pada Juni 2015.

Selama empat tahun menguasai Brisbane, Grup Bakrie sudah menggelontorkan uang hingga sembilan juta dolar AS namun hal itu tidak dibarengi prestasi yang memuaskan.

“Nirwan Bakrie sudah setuju untuk menjual Brisbane Roar dalam sebuah kesepakatan yang bisa menjamin para kreditur dibayar serta stabilitas dipulihkan,” kata Chris Fong, mantan ketua Brisbane Roar kepada media seperti dilansir The World Game.

6. Sihar Sitorus – FC Verbroedering Dender
Tokoh sepak bola nasional, Sihar Sitorus pada Februari 2018 lalu memberikan pernyataan mengejutkan seputar keberhasilannya membeli klub Eropa.

Namun, ketika itu Sihar enggan menyebut secara spesifik nama dan liga di mana klub tersebut bermain.

Pada Jumat 23 Juni 2018, barulah Sihar Sitorus untuk pertama kalinya menyebut nama klub Belgia miliknya pada acara konferensi pers talent scouting bertajuk Bola.com From North Sumatra to Belgium di salah satu hotel mewah di Medan.

Mantan anggota Komite Eksekutif PSSI itu mengaku membeli FC Verbroedering Dender, klub kasta ketiga di Liga Belgia itu karena sesuai dengan visi dan misinya memajukan sepak bola nasional.

“Pertama, saya melihatnya ini dari suatu proses rangkaian yang lengkap. Saya ingin mereka memiliki pembinaan usia muda yang baik, kompetisinya juga bagus, dan memiliki reputasi di liga-liga besar di luar Belgia,” kata Sihar.

“Kedua, mereka memiliki kebijakan imigrasi yang lebih kondusif, lebih menarik dari negara lain. Ketiga, mereka merupakan negara sepak bola,” ucap Sihar. (*)

Sumber : Bola.com
Editor : Val Vasco Veenedict

Konten Terkait

Pro Sumut

Suksesor Edy Rahmayadi Aktor Penting Pengaturan Skor, Simak Temuan Polisi

Val Vasco Venedict

Jesse Lingard Minim Prestasi, Tapi Banyak Banyak Gaya

Ridwan Syamsuri