Prosumut
Tekno Tokoh/Obituari

Aku Ashraf Sinclair, dan Publik Cuma Kenal Aku sebagai Suami BCL

PROSUMUT – Ashraf Sinclair, terjun ke dunia yang sama sekali berbeda dengan industri yang membesarkan namanya.

Tapi inilah testimoni Ashraf tentang diri dan bisnisnya. Catatan ini dibuat jauh sebelum takdir Tuhan menghampirinya Selasa 18 Februari 2020 pagi tadi.

***
NAMAKU Ashraf Sinclair. Ketika memperkenalkan diri ke orang lain, itu adalah momen yang canggung.

Seperti yang kamu ketahui, aku seorang aktor.

Pengalamanku di industri hiburan sudah 20 tahun.

Ketika aku di acara networking (konferensi), bertemu orang-orang, mereka selalu bertanya, kamu masuk industri apa?

Ketika mereka tahu aku terjun industri entertainment, mereka mulai tertarik.

Apa yang kamu lakukan, apakah kamu seorang produser? Punya perusahaan media?

Ketika aku bilang aku seorang aktor, mereka berasumsi kalau aku pasti sangat terkenal. Padahal, aku ingin sekali menjadi orang biasa saja.

Belakangan, aku menjelaskan lebih jauh lagi ke orang-orang. Aku juga seorang investor di 500 Startups (Venture Capital), mereka terbelalak.

Mereka bertanya, bagaimana bisa seorang aktor bisa masuk ke dalam dunia investasi?

Perlu diketahui, 500 Sartups adalah platform investor paling aktif yang fokus berinvestasi pada startup tahap awal. Bagaimana aku bisa terlibat?

Aku kasih satu konteks, ketika aku pindah dari Malaysia yang berpenduduk 30 juta jiwa, ke Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta, kemungkinan aku makin terkenal bisa meningkat sampai 700 %

Itu menggambarkan peluang untuk tumbuh di Indonesia itu sangat besar.

Aku sendiri percaya, Indonesia punya problem yang perlu dipecahkan. Semua startup di Indonesia pada dasarnya muncul dari ide-ide tersebut.

Startup seperti GoJek, Traveloka, Tokopedia, itu cuma pucuk gunung es. Masih ada banyak problem di Indonesia yang butuh penyelesaian.

Banyak founder startup datang kepada aku bicara soal problem dan solusi yang mereka tawarkan.

(Ashraf lalu menunjukkan gelas air, setengah terisi) Sebagian orang melihat ini setengah kosong.

Sebagian orang berpandangan ini setengah penuh. Pandangan entrepreneur mungkin, wah ini ada 300 juta penduduk yang tidak bisa minum air bersih, kita harus memecahkan masalahnya.

Aku sendiri datang ke Indonesia bukan karena melihat potensi yang besar bagi karir acting aku.

Aku datang ke Indonesia karena aku jatuh cinta, dengan Bunga Citra Lestari.

Aku datang ke Indonesia karena hati. Tanpa tahu bagaimana mengembangkan karir aku di sini. 250 juta angka yang besar, tapi bagaimana bila orang-orang tidak suka aku?

Itu yang orang-orang tidak tahu.

Aku butuh enam bulan agar bisa Bahasa Indonesia. Waktu aku menikahi Bunga, yang bukan fans bilang: aku mengakuisisi produk Indonesia. Pertama Batik, sekarang BCL.

(Ashraf pun melanjutkan ceritanya ke awal-awal dia bertemu Khailee Ng, Managing Partner 500 Startups)

Khailee adalah alasan kenapa aku bisa di Venture Capital. Dia menelpon aku suatu pagi di bulan Desember.

Dia bilang, hei bro, kamu mau bergabung dengan aku, di 500 Startups, sebuah Venture Capitals?

Aku jawab waktu itu begini: tapi Khailee, aku tidak tahu soal venture, aku tidak tahu apa-apa.

Khailee bilang, kamu tahu lebih banyak daripada yang kamu kira. Lalu, Khailee berbagi visi dan misi 500 Startups.

Misi 500 Startups adalah untuk menemukan pengusaha yang paling bertalenta, bisa membuat perusahaan yang menguntungkan, juga mampu menggerakan ekosistem global.

Bagaimana aku bisa bilang tidak untuk semua itu?

Kemudian, dia cerita soal nilai filosofis 500 Startups. People, be humble, be inclusive, be an example, be driving.

Ketika aku mulai bergabung dengan 500 Startups, semua hal sama sekali baru bagi aku.

Banyak yang aku lakukan setelahnya. Belajar hal baru, bertemu orang baru, sekarang banyak orang yang datang ke aku.

Ini cerita nyata, aku berdiri di bandara internasional Bangkok, gerbangnya tinggal 5 menit lagi tutup. Tapi, ada orang yang datang ke aku untuk cari dana startup-nya.

“Gelas” aku waktu itu terlalu kecil. Tapi tetap saja ada yang bisa aku pelajari dari semua itu. Give Back!

Kalau kamu mencari pendanaan untuk startup kamu, bantulah orang lain juga.

Jika kamu mencari investasi, kamu belajar investasi dulu. Try to give it first.

Kalau kamu mau mengembangkan perusahaan atau startup kamu di Indonesia atau di manapun di Asia, tanya dirimu sendiri, apakah kamu “in” atau kamu “out”.

Karena kalau kamu fokus pada “in” maka kamu akan menemukan jawaban di dalam dirimu.

Kalau kamu fokus pada “out”, kamu akan sadar kalau kamu sebenarnya “without”.

Resminya, aku gabung di 500 Startups, Januari 2017. Sebelum itu, aku sudah melakukan beberapa angel investment (investasi perorangan) ke beberapa startup.

Di antaranya ada altia.kr, market place untuk produk kecantikan dari Korea. Ada iflix.

Jadi, aku hitung sudah beberapa tahun ini main di startup.

Kini, aku gabung dengan 500 Startups yang saat ini sudah investasi di 1.600 startup dari seluruh dunia.

Kami fokus dengan investasi seed stage (investasi paling awal).

Sebenarnya aku tahu, bermain di Angel Investor ini berisiko tinggi. 9 dari 10 startup tidak berhasil.

Tapi, satu dari sepuluh startup itu yang bisa mendatangkan returns yang tinggi.

Bagi aku sendiri, investasi di startup ini bukan untuk mendapatkan returns-nya.

Buat aku, bergabung di sini seperti masuk ke dunia yang menurut aku sangat menarik, sangat seksi, punya banyak anak muda yang pintar.

Aku percaya, di sini aku bisa berbagi dengan mereka. Itu sebenarnya tujuan aku untuk masuk ke dunia startup ini, supaya aku bisa berbagi pengetahuan.

Untuk menentukan investasi di startup, aku melihat ke kualitas founder-nya.

Kalau founder-nya sudah punya track record yang bagus, paling tidak kita bisa memberikan investasi yang membuat startup itu tumbuh.

Kita juga bisa lihat dari model bisnisnya. Apakah memang bisnis modelnya punya pasar untuk berkembang.

Dari melihat semua faktor ini, kita bisa ambil keputusan untuk investasi.

Buat aku, yang paling penting Angel Investor itu bukan soal insting bisnis yang bagus. Intinya bisa melihat dengan jujur inti dari perusahaan.

Jeroan startup itu seperti apa, melihat orangnya: apakah orang ini bisa menanggung beban yang lebih besar lagi nantinya.

Karena kadang-kadang, orang itu kalau terlalu besar bisnisnya, dia tidak bisa menampung.

Sebenarnya, Angel Investor sudah mulai banyak hadir.

Ada banyak grup, seperti Angin, yang membawa sekelompok Angel Investor ke Indonesia.

Dari luar banyak yang mau investasi di Indonesia. Indonesia sekarang tempat yang “panas” untuk investasi startup.

Seperti yang sudah saya sampaikan, banyak problem nyata di Indonesia. Contohnya, seperti kita tidak punya akses ke kartu kredit.

Tidak berarti kita harus memberikan kartu kredit ke masyarakat. Tapi, bisa melangkahi kartu kredit ke e-wallet, fintech, mobile payment.

Jadi, tidak menggunakan sistem perbankan seperti biasa.

Semua solusinya di luar dugaan kita. Seperti GoJek yang kalau dipikir sebelumnya tidak masuk akal.

Apa yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah edukasi. Banyak UKM yang bergerak dalam model bisnis yang lama.

Mereka tidak mengetahui, di luar sana ada banyak kesempatan mendapatkan investasi.

Mereka harus didorong untuk ikut konferensi, bertemu orang lain. Itu sebenarnya bisa memperkaya ekosistem startup di Indonesia. (*)

Konten Terkait

Luncurkan V17 Pro, Vivo Bundling dengan XL

valdesz

Daftar 3 VGA Card Terbaik 2019 untuk Gaming

Ridwan Syamsuri

Jadi Mitra Kartu Prakerja? Platform Digital Silakan Daftar di Sini

valdesz