Prosumut
Sosial Budaya

Nostalgia dengan Teknologi Jadul

DALAM 1 dekade ini, kita disuguhkan berbagai macam perkembangan teknologi.

Dari hal kecil seperti “face filter” pada Snapchat dan Instagram sampai mobil tanpa pengendara.

Tapi seiring kita mendekati akhir 2019, nampaknya teknologi-teknologi lama mulai tumbuh kembali. Kenapa hal ini bisa terjadi ?

Di 2019 ini banyak teknologi lama atau dengan cita rasa lama kembali ke pasar. Motorola dengan smartphone Razr-nya, Nokia dengan 2 handphone klasik Nokia 800 dan flip phone Nokia 2720.

Sampai mesin video game klasik seperti Playstation Classic dan Sega Genesis Mini. Bahkan kalau kita lihat beberapa tahun ke belakang, kamera instax Fujifilm sempat ngetren di tengah popularitas kamera digital dan kamera di smartphone.

“Teknologi tidak pernah dibuat untuk masa lalu, teknologi selalu berbicara masa sekarang dan masa depan”
– Krystine Batcho – Profesor Psikologi Le Moyne College

Memang ini sebuah paradox, di satu sisi perkembangan teknologi terjadi untuk membuat hidup manusia lebih baik, membuat kita terus melihat ke depan dan tidak melihat ke belakang.

SD card yang sekarang bisa mencapai 2 terabyte (TB), membuat kita lupa bahwa beberapa tahun lalu floppy disk hanya bisa menampung 8 megabyte (MB).

Tapi orang tetap membeli kamera instax misalnya, padahal kamera digital memberikan banyak kenyamanan kepada penggunanya.

Di kamera digital misalnya, kita foto sebanyak-banyaknya dan hanya menyimpan foto yang kita sukai, sedangkan di kamera instax, setiap foto akan memakan film atau dengan kata lain kamu membayar setiap foto yang kamu ambil.

Salah satu hipotesis yang dibuat Krystine Batcho seorang profesor di bidang psikologi, mengatakan orang nostalgia teknologi masa lalu bukan karena teknologi tersebut lebih baik.

Mereka nostalgia dengan teknologi masa lalu, untuk mengingat masa-masa yang menurut mereka lebih baik, masa-masa yang lebih menyenangkan.

Mungkin saja hipotesis ini benar. Kalau kita ingat banyak penelitian mengatakan bahwa sosial media dan aplikasi chatting seperti Whatsapp membuat orang menjadi lebih stres dan gelisah.

Padahal perkembangan teknologi tersebut bertujuan agar kita lebih mudah terhubung dengan kenalan, teman dan keluarga kita.

Bisa jadi menggunakan hape jadul misalnya, membuat seseorang jadi tidak terhubung dan membuat dirinya menjadi kurang stres dan gelisah.

Hal lain yang dihipotesiskan Batcho adalah orang tidak ingin menggunakan hape jadul ataupun kamera polaroid. Tapi orang ingin mengingat cerita masa lalu yang melekat pada barang jadul tersebut.

Saya merasa hal ini masuk akal, saya (penulis) belum lama ini memainkan game jadul Contra di konsol Nintendo Switch. Ketika memainkannya saya teringat dengan masa-masa menyenangkan ketika saya memainkan game ini dengan teman SD saya.

Misalnya, wajah Presiden Joko Widodo semringah lihat penampakan Suzuki Jimny generasi terbaru.

Jokowi jadi inget mobil pertamanya Suzuki Jimny, yang dipakai semasa kuliah di UGM, Yogyakarta. Sayangnya, beliau belum putuskan, apakah mau beli mobil itu atau tidak. Tunggangan pertama emang sulit untuk dilupain yah Pak?

Akhir kata, sesekali kita melihat dan menggunakan teknologi jadul untuk mengingat masa-masa lalu mungkin bisa menjadi rekreasi tersendiri bagi sebagian orang.

Tetapi jangan lupakan teknologi-teknologi yang sekarang kita gunakan. Karena mungkin 10 tahun ke depan, di tahun 2029, kita melihat ke belakang lagi dan akan sangat kangen kepada teknologi-teknologi yang kita miliki saat ini. (*)

Konten Terkait

Maret 2020, Angka Kemiskinan Naik 0,12 Poin di Sumut 

admin2@prosumut

Pariwisata Terdampak Covid-19, Sekda Asahan Bantu Puluhan Supir

admin2@prosumut

Kompi 2 Yon A Satbrimobda Sumut Bantu Korban Banjir

admin@prosumut