Prosumut

4 Kali Harimau Mangsa Lembu Warga di Langkat

Umum

PROSUMUT – Harimau Sumatera yang bebas berhabitat di areal hutan TNGL Kabupaten Langkat Sumatera Utara disebutkan terus menerkam lembu warga yang biasa dilepas.

Saat temuan lembu warga milik Jumingin di Desa Timbang Lawan Kecamatan Bahorok yang diterkam Harimau Sumatera pada Senin 28 Oktober 2019, ternyata tidak hanya seekor saja yang menjadi korban.

Anak lembu piaraan Amat pun jadi korban lantaran dimangsa harimau dan ditemukan di tempat yang sama.

Ternak lembu yang menjadi mangsa harimau itu berada di jarak 200 meter dari batas kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Peristiwa itu bukan kali pertama. 2014 lalu mengawali kejadian tersebut. Kemudian kedua pada Agustus 2018. Kini tercatat, kejadian tersebut sudah kali keempat.

Temuan piaraan Amat tak sampai sepekan dan hanya berjarak 1 Km. Kondisinya tinggal tengkorak dan tulang belulang di antara kebun kelapa sawit. Sekitar 500 meter jaraknya dari batas kawasan TNGL.

Kasi Pengelolaan TNGL Wilayah V Bahorok, Palber Turnip menjelaskan, kasus harimau menerkam piaraan warga. Tiga kasus pertama, ternak tersebut milik Jumingin dan yang terakhir milik Amat.

Semuanya ditemukan berdekatan dengan kawasan TNGL. Dari catatan, pada 2018 bangkai lembunya ditemukan di 500 meter dari batas kawasan TNGL.

Pada 26 Oktober, bangkai lembunya ditemukan di jarak 300 meter dari batas kawasan TNGL. Sedangkan anak lembu milik Amat ditemukan 500 meter dari batas kawasan. Jarak kedua bangkai itu 1 km.

Palber menambahkan, sebenarnya pihaknya sudah memberikan sosialisasi dan pengertian kepada warga agar mengandalkan ternaknya.

“Tapi ini malah makin dekat dengan kawasan. Memang lokasi itu sempurna untuk ternak. Ada sungai dan rumput banyak,” katanya, Minggu 3 November 2019.

Sementara itu, Wildlife Trafficking Specialist, Wildlife Conservation Society, Dwi Adhiasto menambahkan, peristiwa harimau menyerang ternak adalah hal normal. Jika harimau menyerang manusia, baru disebut anomali.

Harimau, kata dia, sama seperti halnya manusia. Ketika ada mangsa yang mudah, dia tidak akan memilih mencari yang sulit.

“Mau harimau tua atau muda, jantan atau muda, kalau ketemu mangsa yang mudah tanpa keluarkan banyak energi, ya akan buru itu,” katanya.

Sebenarnya, untuk kawasan yang rawan terjadinya serangan harimau terhadap ternak, ada daerah yang bisa dijadikan pembelajaran misalnya di Tapaktuan.

“Intinya harimau itu kan menarik mangsa. Tidak bisa mendorong. Makanya kandang itu diberi kawat berduri yang dipaku dari dalam,” katanya.

Namun demikian, hal yang utama adalah mengubah kebiasaan warga untuk mengamankan ternaknya ketika hendak senja.

Di Tapaktuan, kata dia, membuat kandang berukuran besar sehingga bisa menampung banyak ternak.

“Itu cukup efektif untuk menghindarkannya dari serangan harimau,” tutupnya. (*)

Reporter: Muhammad Akbar
Editor: Iqbal Hrp

Konten Terkait

429 Meninggal dan 16 Ribu Mengungsi

[email protected]

Kemenhub Awasi Ketat Maskapai Pengguna Boeing 737 Max-8

[email protected]

Soekirman Targetkan Nilai SAKIP Ditingkatkan Lagi

[email protected]