Prosumut

Jadi Pembicara di Tanzania, Bupati Sergai Terkesan Minimnya Sampah Plastik

Tokoh/Obituari

PROSUMUT – Organisasi gereja UEM (United Evangelical Mission) di Jerman menyelenggarakan Conference International Interreligious Action for Oeace and Inclusive Communities di Zanzibar, Afrika.

Pada acara yang digelar 19-23 September 2019 itu, Bupati Serdangbedagai (Sergai) Ir H Soekirman mendapat kehormatan menjadi salah satu pembicara.


Konferensi antaragama internasional untuk perdamaian itu mengangkat tema “How to Strengthen Potential of Religious Actors in Promoting Peace (Cara Memperkuat Potensi Aktor Agama dalam Mempromosikan Perdamaian)”.

Acara ini diikuti oleh 10 negara al Tanzania seperti, Zanzibar, Indonesia, Germany, Kenya, Cameroon, Rwanda, Congo, Philippines, Sri Lanka, dan Namibia.

Konfrensi international dibuka oleh 2nd Vice President of Zanzibar, Amb.Seif A.Iddy di Zanzibar Beach Resort Hotel.


Namun sebelum acara, saat pesawat mendarat di Bandara Zanzibar, Soekirman begitu terkesan. Pramugari pesawat Qatar Airways langsung mengingatkan penumpang tentang denda jika membawa/membuang sampah plastik sembarangan.

“Para penumpang sekalian, pemerintah Zanzibar melarang masuk sampah plastik. Barang siapa buang sampah plastik sembarangan dan tertangkap akan didenda sangat mahal,” ujar Soekirman menirukan pramugari dalam laporannya yang diterima PROSUMUT, Sabtu 22 September 2019.

Dalam hati, Soekirman bertanya. “Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?,” gumamnya.


Lepas Bandara Zanzibar, Soekirman merasa biasa saja. Tapi ketika mengunjungi publik market atau pasar rakyat, terlihat tidak ada sampah plastik.

“Walau kantong pembungkus sekalipun,” tutur Soekirman terkesima.

Menurut Soekirman, semua kedai dan toko hanya menyediakan kantong kertas (paper bag) untuk para pembeli. Kelihatannya sederhana, ternyata dampaknya luar biasa.

“Dimana-mana publik area seperti pasar, terminal, sekolah, pantai, hotel tidak terlihat sampah plastik dan kantong plastik,” sebut Soekirman.


“Meskipun di beberapa tempat pinggir kota masih terlihat ada botol plastik tercecer di tepi jalan,” sambungnya.

Pada umumnya, toko-toko sudah tidak menyediakan kantong plastik. Hanya paper bag dengan alasan bisa hancur (disposable).

“Sehingga mengurangi beban lingkungan,” analisis Soekirman didampingi sang istri Ny Hj Marliah Soekirman.

Kata Soekirman, para peserta konfrensi diberi botol seperti termos. Jika air habis, di ruang hotel ada dispenser.

“Tak perlu beli air kemasan,” jelas Soekirman.


Meskipun “Ban Plastic Waste (Melarang Sampah Plastik)” sudah dilindungi UU yang merupakan inisiatif pemerintah pusat dan DPR Tanzania, namun pada awalnya (sekitar 5 tahun lalu) dimulai dari para pecinta lingkungan, atau komunitas lingkungan di Zanzibar.

“Gerakan yang penuh kesadaran ini kemudian menjadi gerak bersama elemen masyarakat dan organisasi keagamaan,” jabar Soekirman.

Zanzibar yang penduduknya sekitar 1,5 juta adalah semi otonomi dan 95% agama Islam. Namun toleransi dan inter relasi antar agama adalah yang tertinggi di dunia.

Negara bekas Kesultanan Oman pada abad ke 8 ini, kini di bawah Republik Tanzania. Pemerintah memberi ruang warga bebas memeluk agama.


“Bukan itu saja, antar agama saling tolong menolong dalam menjawab permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat,” sebut Soekirman.

Itu sebabnya organisasi gereja UEM menyelenggarakan Konferensi Aksi Antaragama Internasional untuk Perdamaian dan Komunitas Inklusif di negara ini.(*)

Reporter: Bhatara Hsb
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Olo : Sang “Godfather” & Pendiri IPK yang Filantropis

Ridwan Syamsuri

Syukuran, Rahmat Shah Luncurkan Buku Kanker Prostat Bukan Vonis Mati

[email protected]

Ustaz Somad Terbang dari Madura, Ibundanya Dimakamkan di Asahan

Val Vasco Venedict