Prosumut
Oleh : Yudho Sasongko, Mahasiswa

Media Siber yang Saber

Media

PEDANG Saber adalah salah satu jenis pedang yang umum digunakan dalam dunia kependekaran. Banyak orang yang mampu memegang pedang ini.

Namun, ada orang yang terus-menerus berlatih keras, terus-menerus belajar, untuk menggunakan pedang ini dengan baik. Orang-orang ini dikenal sebagai jawara pedang.

Pun begitu, banyak media siber yang mampu memegang ketajaman. Namun, ada media siber yang terus-menerus mengasa ketajamannya agar lebih bermanfaat. Media siber ini saya namakan saja sebagai media pendekar.

Pedang saber adalah pedang yang mengandalkan sisi tajam lengkungnya. Pedang melengkung bermata satu ini memiliki pelindung tangan yang besar.

Pun begitu, media siber harus mengandalkan satu sisi tajam yang tidak terdistorsi oleh ancaman kekuasaan, tidak bias oleh bujuk rayu sindikasi dan persengkokolan yang berkarat menumpulkan sisi tajamnya.

Media siber semestinya bak sebuah pedang saber yang cukup panjang menyuarakan keadilan dan lebih menipiskan ketakutan-ketakutan.

Media siber yang berbasis penggunaan koneksi internet, dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik, seharusnya sangat panjang dan tidak kehabisan napas dalam menelusuri pertarungan hoaks dan fakta, membabat habis semua ancaman ketidakadilan, serta terus berjalan pada sisi-sisi terjalnya.

Walaupun media siber memiliki karakter khusus, sehingga harus patuh pada aturan pers dan kode etiknya, namun ini bukan berarti telah tumpul untuk memotong dan ataupun menebas siapa saja yang perlu ditebas.

Media siber yang berbasis kecapatan, interaksi, dan kelugasan tidaklah dengan mudah mengobral ataupun merilis bahan-bahan cepat saji dan yang kurang berkualitas. Pedang saber dan media siber tentunya tidak mengharapkan tata kelola konten yang asal-asalan.

Media siber yang berbasis global audiences (pembaca global) yang timeless (tidak terikat waktu) harus tetap memperhatikan relasi dengan pengguna dalam sebuah interaktif yang baik (interactivity).

Kontak atau interaksi dengan pembaca diharapkan dapat terjadi langsung saat itu juga melalui kolom komentar atau lainnya guna menjadi kebaruan konten.

Faktor community and conversation (komunitas dan percakapan) pastilah memiliki peran yang lebih besar daripada media cetak atau media konvensional lainnya.

Media siber adalah media penjaring komunitas. Artinya, dalam hal ini, jurnalis ataupun pengelola konten harus bisa memberi jawaban atau timbal balik kepada publik sebagai sebuah tanggung jawab interaksi publik.

Terutama media siber yang berbasis user generated content (konten buatan pengguna), kehadiran community and conversation benar-benar sangat diperlukan sebagai wujud tanggung jawab pengguna dan pengelola.

Inilah salah satu keunggulan sekaligus pembeda antara jurnalistik daring dengan jurnalistik konvensional.

Selain kehadiran sebuah link itu sendiri, interaksi langsung merupakan nyawa terpenting bagi media siber.

Pedang siber pada dasarnya bebas menebas ke mana saja di tangan para pendekar pedang. Pun begitu, media siber dengan platform digital juga harus bebas memproduksi dan menyebarkan berita tanpa adanya ketakutan dari sebuah over regulated.

Bagi media siber, partisipator (user) adalah kawan pedang saber yang baik. Media siber bukanlah pedang saber yang siap diacung-acungkan kepada partisipator.

Dengan memperhatikan definisi di atas, maka user identik dengan pembaca (media cetak), pemirsa atau penonton (media televisi), dan pendengar (media radio) yang pada dasarnya adalah manusia hidup dan bukan robot. Jadi layak untuk dimanusiakan.

Media siber tidak mengorbankan para partisipatornya dengan karat-karat yang merugikan. Semisal, partisipator yang dihantam denga umpan klik (clickbait) yang berlebihan.

Media siber tidaklah terlalu bertuhan kepada clickbait. Perburuan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, bukanlah mata tajam sebuah media siber.

Media siber bukanlah sekumpulan kail-kail pancing yang tak bertanggung jawab dan asal-asalan.

Ketajaman sebuah media siber jangan sampai terganggu oleh over-nya clickbait yang bertajuk sensasional dengan gambar mini yang menarik mata untuk menekan klik-tayang (click-through).

Clickbait memang menjadi salah satu tulang punggung media siber. Banyak pembuat konten yang menggunakan clickbait untuk menarik netizen, dengan tujuan akhir agar mengklik judul unik tersebut karena tertarik dan penasaran untuk membacanya.

Jangan sampai ketajaman media siber berujung pada kekecewaan umbar berlebihan pada clickbait.

Clickbait journalism (jurnalisme umpan klik) yang bercirikan pengandalan judul-judul berita yang memancing klik dengan menyembunyikan substansi atau fakta terpenting harus mempunyai kandungan clickbait headline (judul umpan klik) yang seimbang. Agar tak terkesan bombastis dan pepesan kosong.

Media siber yang mempunyai mata pedang saber tajam adalah mereka yang mampu menarik unique visitors (UV), yaitu pengunjung unik atau orang yang baru pertama kali membuka sebuah website.

Di sini, media siber harus punya cara agar pengunjung unik tersebut betah untuk terus melakukan interaksi dan kegiatan koneksi internetnya.

Hal terburuk bagi mata tajam media siber adalah memburu traffic-nya. Dengan asumsi, ketika traffic melambung, kemungkinan produk atau jasa yang ditawarkan mempunyai nilai minat yang tinggi.

Traffic memang sebagai tulang punggung sebuah search intent dalam menentukan peringkat konten. Traffic tinggi tanpa diimbangi konten berkualitas adalah sebuah penyebaran kebodohan yang berlipat.

Prinsip kontroversi tidak selalu bagus untuk sebuah mata tajam media siber. Janganlah memburu kontroversi untuk sebuah konversi traffic laman semata.

Media siber yang tajam juga harus mampu membuat breadcrumbs (navigasi halaman) yang ringan dan renyah bagi pengguna.

Breadcrumbs bagi pengguna ibarat roti lapis (sandwich) yang mudah dilihat isinya. Sehingga level audience control (kendali audiens) cukup bisa membuat keterlibatan langsung pengguna dalam memilih dan mencari berita yang diinginkannya.

Hal terpenting dan fundamental bagi media siber adalah jalinan erat terhadap user.

Ketika media siber mampu menggandeng user dalam sebuah keyakinan dan intensitas perjuangan yang tinggi, maka di situlah media siber setajam pedang saber.

Mereka yang terjalin sudah tidak terlalu memikirkan untung-rugi dari sebuah pernik-pernik pendukung sekunder. (*)

Source: Qureta / Ilustrasi : Net
Editor: Val Vasco Venedict

Konten Terkait

Tangkal Hoax, AJI Edukasi Mahasiswa Cara Cek Fakta

valdesz

Koran Tertua di Malaysia Akhirnya Tutup, Erupsi Digital Porak-porandakan Bisnis Media Cetak

valdesz

Kekang Kebebasan Informasi, AJI : Cabut Pembatasan Medsos

Val Vasco Venedict