Prosumut

Melihat “Budidaya” Antri di Dermaga Fery Ajibata, Wajib Bayar Rp5.000

Public Service

PROSUMUT – Dermaga penyeberangan Danau Toba menjadi satu fasilitas bagi pengendara kendaraan bermotor khusunya roda empat atau lebih untuk menyeberang dari dan ke Pulau Samosir.

Ini menjadi andalan untuk menuju berbagai objek wisata selain melalui jalur Tano Ponggol (Tele) yang tersambung dengan jembatan di Pangururan.

Tetapi bagi pengunjung yang hendak menyeberang berikut bersama kendaraannya, harus membayar kocek lebih jika waktunya tidak tepat.

Artinya, ada yang bisa saja terkena ‘waktu sial’ saat antrian mobil harus berada di luar kawasan dermaga, atau di pinggir jalan umum.

Kondisi ini terus dialami warga yang menunggu giliran menyeberang, namun belum bisa masuk ke lokasi dermaga.

Adalah D Nainggolan (31), warga Tebing Tinggi yang hendak menyebarang ke Samosir melalui Pelabuhan Ajibata ke Ambarita menumpang kapal KMP Tao Toba.

Dirinya merasa ada yang aneh dari alasan pengutipan oleh oknum tertentu, meminta uang sebesar Rp5.000.

Menurutnya, kedatangan orang untuk menyeberang danau untuk mendapatkan fasilitas penyeberangan denga membayar biaya sekitar Rp 100.000 lebih.

“Kita kan menggunakan pelayanan penyeberangan dan membayar tarif sesuai yang diminta. Namun karena keterbatasan armada, makanya terkadang saat hari libur, seringkali kita harus menunggu di luar dermaga, mengantri sampai 2-3 jam sebelum masuk kapal. Artinya yang korban kan kita harus menunggu lagi, tetapi kenapa dikutip lagi,” ujar Nainggolan.

Diakuinya, saat pengutipan itu dilakukan oknum yang tak ingin disebutkan namanya, Nainggolan mempertanyakan hal itu.

Dirinya pun menerima alasan yang membuatnya geli, lucu dan aneh. Sebab uang sebesar Rp5.000 itu diperuntukkan bagi budidaya antri.

“Katanya untuk budidaya antri. Saya kira hanya budidaya ikan dan pertanian saja, ternyata ada juga bidudaya antri. Makanya agak aneh bahasanya. Kok seperti itu. Sempat juga saya berdebat sedikit, kenapa harus kami yang bayar,” katanya.

Namun kata Nainggolan, perdebatan itu langsung terhenti ketika kendaraannya sudah bisa masuk ke dalam kawasan dermaga Ajibata.

Sehingga oknum pengutip (pungli) yang menempelkan lakban berwarna kuning yang katanya untuk tanda antrian, langsung memberikan jawaban bahwa kutipan ini agar pengendara membiasakan antri.

“Itu sekalian parkir juga bang, kata kawan itu,” ujar Nainggolan menirukan kalimat oknum pengutip uang.

Dari kejadian yang sudah berlangsung bertahun lamanya itu, Nainggolan berharap pemerintah  bisa serius mengelola kawasan pariwisata Danau Toba.

Apalagi yang seperti ini bukan hanya di Ajibata, tetapi juga terjadi di Samosir. semua kendaraan yang terkena antrian di luar areal dermaga, seperti terena sial.

“Jadi kalau waktunya pas kosong, kita bisa masuk ke areal dermaga, tidak dikutip lagi uang budidaya antri. Tetapi kalau pas dapat sial, ya kita antri di jalan, harus bayar. Baru ini saya dengar ada budidaya antri,” katanya sambil berkelakar. (*)

Source: foto: danautobacenter
Reporter: Iqbal H

Konten Terkait

Peringatan Hari Kartini, Driver Perempuan di Sumut Diberi Penghargaan

Ridwan Syamsuri

Blanko e-KTP Kosong di Binjai

Ridwan Syamsuri

Pertamina Salurkan Bantuan UMKM Perempuan Senilai Rp275 Juta

Ridwan Syamsuri