Prosumut

Pacar Tewas, Terdakwa Menyesal Menyuruh Aborsi

Hukum Kuliner

PROSUMUT – Meiman Jaya Hulu (20) warga Desa Bohalu, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan mengaku menyesal telah menyuruh pacarnya, Yariba Laila (21) warga Medan melakukan aborsi, hingga mengakibatkan meninggal dunia.

Hal itu diungkapkan Meiman Jaya di hadapan Ketua Majelis Hakim, Deson Togatorop dalam sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa yang digelar di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (8/7) sore.

“Saya sangat menyesal yang mulia. Saya sangat mencintainya (korban),” ujar terdakwa.

Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Medan ini juga membeberkan jika dia dan korban sudah pacaran sejak Juli 2017 hingga tibanya hari naas itu pada 9 Maret 2019.

“Kami sudah 2 kali melakukan itu (hubungan suami istri),” bebernya sambil tertunduk.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rina Sari Sitepu.

Dalam surat dakwaan, disebutkan terdakwa bersetubuh dengan korban pada awal bulan Agustus tahun 2018 menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom, namun setelah kejadian tersebut terdakwa kembali berhubungan badan dengan korban sekira awal bulan Oktober 2018.

Saat itu terdakwa tidak menggunakan alat kontrasepsi. Pada akhir Desember 2018 terdakwa bertemu dengan korban, dan saat itulah terdakwa melihat ada perubahan dalam bentuk tubuh kekasihnya itu seperti wajah agak pucat, dan terdakwa merasa postur tubuh korban seperti orang mengandung.

Kemudian pada akhir Januari 2019 terdakwa bertemu dengan korban di Jalan Pringgan, Medan, saat itu terdakwa melihat bentuk tubuhnya sudah semakin berubah, namun korban belum jujur sudah hamil.

Lalu akhir bulan Februari 2019, terdakwa bertemu dengan korban yang saat itu terdakwa memaksanya untuk mengakui kenapa ada perubahan di dalam bentuk tubuhnya, saat itu korban jujur bahwasannya ia telah hamil 4 bulan.

Saat terdakwa mengetahui bahwa korban hamil, terdakwa mengatakan bahwa ia bertanggungjawab untuk menikahi korban. Namun korban tidak ingin hal itu diketahui karena takut dengan orangtua dan abangnya, sehingga timbul niat terdakwa untuk mencarikan obat yang dapat menggugurkan kandungan dari internet.

Terdakwa lalu memesan 3 papan obat seharga Rp1,1 juta dengan jumlah 30 butir. Setelah pesanan obat datang lalu terdakwa memberikannya kepada korban.

Saat terdakwa memberikan obat bermerek sopros itu kepada korban, ia menganjurkan agar memakan sebanyak 4 butir saja per hari, dan hanya sekali saja jika tidak bisa jangan dilanjutkan.

Lalu pada hari Sabtu 9 Maret 2019 sekira pukul 14.30 WIB, korban diketahui sudah meninggal di rumah majikannya di Jalan Sultan Hasanuddin No 23-9 D Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru akibat minum obat tersebut, dan dalam keadaan bayi sudah keluar dari rahim korban.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pada Pasal 348 ayat (2) KUHP. (*)

Reporter: Chico Brahmana
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Minuman Tradisional yang Laris Saat Bulan Puasa

[email protected]

Orang Kepercayaan Eks Bupati Labuhanbatu Dituntut 5 Tahun

Ridwan Syamsuri

Salinan Putusan Belum Diterima, Ramadhan Pohan Masih Bebas

Ridwan Syamsuri