Prosumut

Akademisi Unpab: Ironis, Potensi Ekonomi Sumut Jadi Pusat Kemiskinan Baru

Ekonomi Pendidikan Umum

Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab), Medan, menggelar diskusi ilmiah di Ruang Seminar A Kampus Tamadun Mandiri Unpab, Jalan Gatot Subroto baru-baru ini. Diskusi tersebut digelar Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Sosial Sains (FSS).

Hadir sebagai narasumber, akademisi Unpab, Dr Abdiyanto SE MSi dan Ade Novalina SE MSi. Diskusi dihadiri Ketua Prodi EP Saimara Sebayang SE MSi, para dosen di antaranya Dr E Rusiadi SE MSi dan Suhendi MA, serta ratusan mahasiswa Prodi EP Unpab.

Dalam diskusi tersebut Dr Abdiyanto menyampaikan, tranformasi ekonomi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sudah berlangsung, yaitu bergesernya sektor pertanian/perkebunan ke sektor industri dan jasa. Sayangnya, transformasi itu justru menumbuhkan kemiskinan baru di pusat-pusat potensi ekonomi Sumut.

“Memang transformasi ekonomi itu memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi dan pendapatan Sumut. Tapi tingkat kemiskinan di Sumut justru bertambah berdasarkan data BPS dan Program Keluarga Harapan (PKH),” ungkap Abdiyanto.

Diutarakan Abdiyanto, mengutip laporan BPS tahun 2017, bahwa penduduk miskin di Sumut berjumlah 1.457.372 jiwa (10,22 persen). Sedangkan penduduk miskin Sumut berdasarkan data Dinas Sosial Sumut yang diukur dari Program Keluarga Harapan (PKH), jauh lebih tinggi, yakni 2.804.000 jiwa pada 2019.

“Itu artinya transformasi ekonomi tidak serta merta memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Yang lebih ironis, pusat-pusat kemiskinan itu berda di pusat-pusat potensi ekonomi Sumut. Misalnya di kawasan pesisir, sekarang nelayan yang dulunya punya sampan sekarang menjadi buruh di kapal penangkap ikan. Petani yang dulunya punya areal pertanian, sekarang menjadi buruh industri. Begitu juga sektor perkebunan/kehutanan, dulu mereka punya PIR (Perkebunan Inti Rakyat) sekarang jadi buruh parbrik dan kebun,” katanya.

Yang lebih ironis, kata Abdiyanto, di kawasan Pangkalan Brandan, Langkat, tempat pertamakali ditemukan minyak di Indonesia dan Pertamina berdiri, sekarang justru jadi pusat kemiskinan baru. Pangkalan Brandan kini seolah kota mati. Gedung-gedung banyak terbengkalai, dan fasilitas-fasilitas Pertamina tak terawat lagi.

“Ini menjadi pukulan bagi Sumut. Apakah begini rancang bangun ekonomi Sumut. Daerah-daerah potensial justru seperti kutukan,” tutur dosen FSS Unpab ini.

Padahal, kata Abdiyanto, di negara tetangga seperti Malaysia dan negara maju lainnya, sektor pertanian menjadi potensi menyejahterakan, bukan memiskinkan masyarakat.

“Ini terjadi akibat pemerintah salah kebijakan. Karenanya, kita minta Gubernur Sumut H Edy Rahmayadi agar melihat permasalahan ini, sehingga tingkat kemiskinan berkurang guna menuju Sumut yang bermartabat,” tandasnya.

Narasumber lainnya, Ade Novalina mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, kebijakan moneter yang berdampak pada jumlah penduduk miskin harus dikendalikan dalam tiga tahap. Pertama untuk jangka pendek, jumlah penduduk miskin dikendalikan dengan transmisi variabel ekspor dan inflasi.

Lalu dalam jangan menengah, pengendalian penduduk miskin menggunakan variabel inflasi dan ekspor. Sedangkan dalam jangan panjang ekspor dan produk domestik bruto (PDB).

“Faktor yang paling mempengaruhi penduduk miskin di negara emerging market sebagian besar oleh PDB, seperti di Indoa, Indonesia, China dan Rusia,” ujar Ade. (*)

Reporter: Rayyan Tarigan
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Polisi Edukasi Pengendara Muda

Ridwan Syamsuri

Dr Jan S Maringka Arahkan OPD Pemko Medan Jalankan Progran Pembangunan

[email protected]

8 ParpoL Lolos ke Pemilu 2024, Yang Lain Kemana?

Val Vasco Venedict