Prosumut

Sempat Diculik, Boydo Kecewa Sikap PDIP Medan & Sumut

Hukum

PROSUMUT – Anggota DPRD Medan Fraksi PDIP, Boydo HK Panjaitan mengaku kecewa dengan sikap pengurus PDIP DPD Sumut dan DPC Kota Medan terkait kasus penculikan yang dialaminya beberapa waktu lalu.

“Saya berterima kasih kepada pihak kepolisian yang cepat dan tanggap dalam menangani kasus saya ini dan telah menangkap salah seorang pelaku. Akan tetapi, saya kecewa dengan DPD PDIP Sumut dan DPC Medan yang menganggap sepele terhadap kasus yang saya alami. Seolah-olah saya dibawa jalan-jalan,” ujar Boydo, Rabu 15 Mei 2019.

Menurut Boydo, dari pemberitaan yang diketahuinya baik DPD Sumut maupun DPC Medan, seperti menganggap main-main peristiwa penculikan yang dialaminya. Padahal, peristiwa itu hampir menghilangkan nyawanya.

“Saya sangat menyesalkan pengurus DPD Sumut dan DPC Medan, karena bukannya turun tangan langsung untuk mencari saya. Padahal, keluarga telah menginformasikan. Seolah-olah ketakutan, istilahnya semua ‘kencingnya warna putih, enggak merah lagi’,” cetusnya.

Diceritakan Boydo, peristiwa penculikan yang dialaminya pada Jumat 10 Mei 2019 ketika hendak meninggalkan Hotel Grand Inna Dharma Deli Medan.

Ketika itu, dirinya hadir sebagai saksi partai pada rapat pleno terbuka rekaputulasi suara Pemilu Serentak 2019 oleh KPU Medan.

Saat rapat tersebut, Ketua Komisi C DPRD Medan ini membongkar kecurangan salah seorang caleg yang juga dari PDIP. Kecurangan terjadi karena suara caleg Edward Hutabarat dicuri oleh caleg lain dari partai yang sama.

“Saat rekapitulasi untuk Kecamatan Medan Helvetia, itulah saya membongkar kecurangan. Namun, ternyata caleg tersebut keberatan dengan tindakannya dan langsung mencegat saya saat hendak meninggalkan hotel sekitar pukul 17.00 WIB. Saya dipaksa naik mobil setelah diancam. Sewaktu saya diculik, keluarga mencari tahu keberadaan saya dimana,” ungkapnya.

Disinggung ada diancam pakai pisau sewaktu hendak diculik, Boydo menyatakan bukan memakai pisau. Jadi, tangan pelaku berada di perutnya seolah-olah seperti pisau dan dipaksa ikut. Kalau tidak, akan ditikam.

“Saat berada di dalam mobil, saya diintimidasi dan dianiaya. Kalau tidak salah ada 4 orang di mobil, tapi saya hanya kenal satu orang,” ucapnya.

Setelah itu, lanjutnya, dia dibawa ke lahan kosong yang ada pohon jagung di kawasan Flamboyan, Medan Tuntungan.

“Sekitar pukul 20.00 WIB lewat, saya akhirnya bisa lepas ketika hendak dibawa lagi ke lokasi lain. Namun, atas kuasa Tuhan ada keluarga yang menghubungi ponsel saya yang disita oleh para pelaku,” terangnya.

“Saya kurang tahu pembicaraan apa yang dikomunikasikan oleh keluarga saya dengan salah seorang pelaku. Setelah itu, pelaku akhirnya melepaskan saya di pintu masuk. Keluarga telah menunggu saya dan menjemput untuk membawa pulang,” terangnya.

Diutarakan Boydo, dalam kasus ini Badan Bantuan Hukum DPP PDIP sudah turun langsung membantu. Bahkan, dua tokoh besar partai yakni Junimart Girsang dan Trimedya Panjaitan juga turun tangan.

“DPP menilai kasus ini bisa merusak nama baik partai, makanya DPP langsung yang turun tangan,” tukasnya.

Sementara, Ketua DPD PDIP Sumut, Japorman Saragih mengaku, sampai sekarang pihaknya belum menerima laporan kasus yang dialami Boydo, baik dari DPC Medan maupun dari korban.

Oleh karenanya, partai belum mengambil langkah apapun guna merespon. Terlebih, oleh Badan Bantuan Hukum DPP PDIP telah turun Junimart Girsang dari Jakarta memberikan pembelaan.

“Belum ada laporan ke kita bagaimana kejadiannya, apa yang dialami dan siapa pelakunya. Jadi, kita belum bisa bertindak,” ujar Japorman kepada wartawan.

Japorman beranggapan, dugaan penculikan yang terjadi kepada Boydo adalah persoalan internal partai. Akan berbeda halnya jika yang dihadapi dari pihak ekstern, DPD segera akan turun ke lokasi.

“Karena ini masalah internal, apakah ini masalah pribadi atau seperti apa, belum jelas,” ucapnya.(*)

Reporter: Rayyan Tarigan
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Polisi Buru 7 Pelaku Main Hakim Sendiri di Unimed

Valdez

Dua Kurir Segoni Sabu Terancam Hukuman Mati

Sahala

Dodi Sebut Masalahnya Murni Hukum, Tak Terkait Pilpres

Valdez