Prosumut

Berbuka Puasa, Hindari Konsumsi Menu Berwarna Mencolok

Kuliner

PROSUMUT – Selama bulan suci ramadan, masyarakat harus peka dan mencurigai makanan berbuka puasa dengan campuran sakarin (pemanis buatan) dan warna yang mencolok.

Hal ini mengingat jajanan untuk berbuka puasa mengalami peningkatan produksinya karena banyak permintaan.

Menurut ahli gizi dari Universitas Sumatera Utara (USU), dr Dina Keumala Sari MGizi SpGK, makanan-makanan dengan campuran pemanis buatan biasanya ada di bahan minuman atau makanan cair.

“Harus bisa dibedakan makanan atau minuman yang menggunakan bahan alami. Kalau menggunakan pemanis buatan, tingkat kemanisan akan terasa sangat tinggi dan sering meninggalkan rasa pahit,” ungkapnya, baru-baru ini.

Selain itu, sambungnya, minuman dan makanan dengan pemanis buatan dapat menimbulkan rasa kering kerongkongan setelah mengonsumsi dengan jumlah banyak.

“Jadi bila kita beli minuman atau makanan yang mengandung pemanis buatan berlebihan, maka rasa dahaga tidak terpenuhi. Sehingga, ingin minum dengan air putih yang lebih banyak lagi,” sebut Dina.

Diutarakan dia, sakarin merupakan pemanis buatan yang mampu memberikan rasa manis 550 kali lebih manis dari gula biasa.

Sakarin banyak digunakan sebagai pengganti gula karena harganya yang lebih ekonomis.

“Terlalu banyak mengonsumsi pemanis buatan ini dapat membuat pertumbuhan kanker di dalam tubuh. Sakarin dikeluarkan melalui urin, sifatnya tidak ditumpuk di dalam tubuh dengan kemanisan yang tinggi. Asupan yang dapat diterima adalah 5 mg/kg berat badan, rata-rata untuk menggantikan 1 sendok teh gula adalah 12 mg saja. Maka bila terlalu berlebihan adalah dapat memicu terjadinya kanker,” jelasnya.

Sedangkan untuk menandainya jajanan yang mengandung pewarna berlebihan bisa dilihat dari makanan yang terlihat sangat cerah dan mencolok.

Adanya rasa pahit baik di awal memakan makanan maupun setelah makanannya. Lalu, setelah selesai dikunyah, bagi yang tidak cocok akan menimbulkan rasa gatal, bau tidak alami, warna makanan berbekas di lidah, bibir, atau kulit.

“Seringnya warna makanan yang mengandung pewarna makanan juga seragam untuk setiap bahan makanan. Sedangkan yang alami seringkali tidak seragam tergantung jumlah dan jenis pewarna alami yang digunakan,” tukasnya.

Sementara itu, memasuki bulan puasa ini Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan meningkatkan frekuensi pengawasan terhadap produk makanan tanpa izin edar dan produk berbahaya.

Hal itu dilakukan guna melindungi masyarakat.

“Sudah dua minggu ini kami terus melakukan pengawasan dan monitoring pada produk jajanan yang dijual pedagang musiman. Seperti kemarin kita sudah mengambil sampel makanan di stand Ramadhan Fair Medan dan ada dijumpai bahan makanan yang mengandung formalin. Jadi, pengawasan ini terus dijalankan dan bukan hanya di hari-hari besar saja,” ujar Kepala BBPOM Medan, Yulius Sacramento Tarigan. (*)

Reporter: Rayyan Tarigan
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Begini Cara Bikin Ayam Geprek yang Lagi Hits, Dijamin Gampang dan Enak!

[email protected]

Bikin Coklat Kurma, Simak Dulu Tipsnya Biar Tidak Gagal

[email protected]

Ssst… Makanan Kedaluwarsa Masih Layak Konsumsi, Ini Syaratnya

[email protected]