Prosumut

Dua Tahun Terakhir, Media Massa di Sumut Tak Pernah Raih Penghargaan Berbahasa Indonesia Terbaik

Media

PROSUMUT –  Selama dua tahun terakhir, media massa di Medan/Sumut baik cetak maupun elektronik tak satupun yang meraih penghargaan berbahasa Indonesia terbaik dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Padahal, cukup banyak jumlah media massa di Medan/Sumut.

“Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud setiap tahunnya selalu melakukan pemilihan media massa yang menggunakan bahasa Indonesia terbaik. Seingat saya, dua atau tiga tahun belakangan ini media kita di Medan atau Sumut tidak masuk peringkat 3 besar,” ungkap Kepala Balai Bahasa Sumut, Dr Fairul Zabadi saat diskusi dengan sejumlah awak media di kantornya, Selasa 14 Mei 2019.

Kata Fairul, dulu memang pernah ada salah satu media cetak di Medan yang masuk peringkat tetap 10 besar. Namun, setelah itu tidak ada lagi.

“Sebagai kepala balai bahasa, saya justru berharap sekali ada media massa di Medan/Sumut yang masuk peringkat 3 besar. Harapannya, paling tidak pada tahun depan atau tahun berikutnya,” tutur dia.

Untuk itu, sebut Fairul, agar keinginannya terwujud yaitu ada media massa di Medan/Sumut yang terpilih menggunakan bahasa Indonesia yang terbaik maka pihaknya akan melaksanakan pemilihan. Kalau tidak tahun ini terlaksana, maka tahun depan.

“Kita akan melakukan pemantauan pengunaan bahasa di media massa baik, cetak dan elektronik. Tujuannya, tidak hanya untuk menguatkan peran media massa di suatu daerah tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional. Misalnya, paling tidak ketika pemilihan media massa yang berbahasa Indonesia terbaik maka media di Sumut dapat masuk tiga besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya sedang merancang konsep untuk pemilihan media yang menggunakan bahasa Indonesia terbaik. Nantinya akan dilibatkan dari jurnalis dalam penjurian.

“Sebelum itu, kita akan lakukan diskusi untuk peningkatan kompetensi dalam penggunaan bahasa di media massa,” ucapnya.

Lebih lanjut Fairul mengatakan, peran media sebenarnya sangat penting sebagai penyambung lidah pihaknya dalam menyosialisasikan bahasa. Peran media menjadi ujung tombak dalam pembinaan bahasa.

“Ada tiga peran media dalam bahasa. Pertama yaitu media merupakan pelaku pembinaan, pelopor, dan penggerak bahasa. Kedua, media merupakan pelaku atau pengembang kosakata baru. Ketiga, sebagai keteladanan,” urainya.

“Ketika ada kata yang belum diketahui banyak oleh masyarakat atau kata itu masih bersifat kedaerahan, sebaiknya diberi penjelasannya. Jadi, tanpa menafikkan penggunaan bahasa daerah agar masyarakat juga tahu maka penjelasannya sangat penting,” imbuhnya.

Sementara, Evi, salah seorang wartawan media cetak terbitan Medan mengatakan, media massa sudah banyak yang taat dalam penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Akan tetapi, karena alasan bisnis atau pangsa pasar, maka mau tidak mau tetap konsisten. Sehingga secara tidak langsung melanggar aturan kaidah bahasa Indonesia.

“Ada istilah-istilah yang belum terdapat padanan, tetapi ada yang digunakan media massa. Padahal, semestinya hal itu tidak dilakukan. Namun media tidak mau melepas ke pangsa pasarnya. Sebab, kalau diubah gaya bahasanya maka pangsa pasar akan lari,” ujarnya.(*)

Reporter: Rayyan Tarigan
Editor: Ridwan Syamsuri

Konten Terkait

Buntut Cerpen LGBT, Biro Mahasiswa Ambil Alih Persma USU

Valdez

MyTV, Stasiun TV Perempuan Pertama Diluncurkam

Valdez

Akses Medsos Dipersulit 3 Hari, Cegah Hoax 22 Mei

Valdez