Prosumut
Hiburan Musik

Java Jazz 2019, Ini Sejarah Jazz Masuk Indonesia

PROSUMUT – Tak terasa, Festival Java Jazz sudah memasuki tahun ke-15 sejak pertama kali digelar pada 2005 lalu oleh Java Festival Production.

Setiap tahunnya, festival ini selalu menampilkan musisi jazz papan atas yang menyedot banyak penonton.

Nah, sebelum nonton Java Jazz tahun ini yang digelar pada 1-3 Maret mendatang, tak ada salahnya mengintip sejarah musik jazz di Indonesia hingga akhirnya mampu membawa pianis cilik yang kini beranjak remaja, Joey Alexander ke panggung dunia.

Musik jazz awalnya diperkenalkan oleh komunitas musisi Afro-American di New Orleans, Amerika Serikat (AS) pada akhir abad 19 dan awal abad 20.

Sehingga banyak yang menyebutnya sebagai musik klasik asli buatan AS yang sampai sekarang masih menjadi kiblat perkembangan jazz dunia.

Aliran musik yang satu ini biasanya memadukan suara dari gitar, piano, trombon, terompet, serta saksofon yang banyak mengandalkan improvisasi sang musisi.

Karena tidak ada pola bermain alat musik yang baku, awalnya jazz dicap sebagai musik yang sulit dimengerti oleh mereka yang tidak pandai memainkan alat musik.

Namun, jazz terbukti mampu berbaur dengan aliran musik lain sehingga tidak asing di telinga pecinta musik.

Dengan begitu, jazz lebih mudah dinikmati oleh berbagai kalangan. Nah, sejak kapan jazz masuk Indonesia? Siapa saja musisi yang berperan membuat jazz semakin dicintai di negeri ini?

Para musisi Filipina rupanya berperan mengenalkan jazz ke Indonesia pada medio 1930-an. Mereka memainkan musik jazz dengan ritme latin, seperti boleros, rhumba, dan samba.

Kemudian pada 1948, puluhan musisi Belanda datang ke Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni. Musik jazz pun semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Setelah itu, grup musik beraliran jazz bermunculan seperti The Progressive Trio, Iskandar’s Sextet, dan The Old Timers and Octet.

Pada 1955, Bill Saragih membentuk grup Jazz Riders. Anggotanya adalah Bill Saragih, Herman Tobing, Didi Chia, Paul Hutabarat, dan Yuse. Mereka memainkan beberapa alat musik seperti piano, vibes, flute, piano, bass, dan drum.

Jack Lesmana juga mendirikan grup musik jazz di Surabaya. Grup bernama Jack Lemmers ini memiliki anggota Bubi Chen (piano), Berges (piano), Didi Pattirane (gitar), Teddy Chen dan Jopy Chen (bass), Maryono (saksofon), Oei Boen Leng (gitar), Mario Diaz (drum), den Benny Hainem (klarinet).

Selain itu, di Bandung muncul musisi seperti Benny Pablo, Eddy Karamoy, Joop Talahahu, dan Leo Masenggani. Jazz pun terus menebarkan pesonanya.

Musik jazz semakin pesat perkembangannya ketika memasuki tahun 1980-an. Kala itu, muncul musisi dan penyanyi jazz Ireng Maulana, Benny Likumahuwa, Elfa Secioria, dan Luluk Purwanto.

Perkawinan jazz dan genre musik lainnya mulai muncul pada 1990-an. Fariz RM bisa dibilang salah satu musisi yang Indonesia yang berani mengawinkannya dengan syahdu. Kala itu, Fariz menciptakan perpaduan pop jazz dan latin.

Di era itu juga muncul nama-nama musisi jazz lain seperti Indra Lesmana yang bersama rekan-rekannya seperti Donny Duhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, dan Gilang Ramadan membentuk grup bernama Krakatau.

Kemudian nama-nama seperti Tompi, Maliq & D’Essentials, Andien, Dewa Budjana, dan Syaharani muncul pada era 2000-an. Jazz pun kian mempesona memikat para penikmat musik di Indonesia.

Bukan cuma di panggung negeri sendiri, beberapa musisi jazz Indonesia juga sudah mencicipi panggung bergengsi di dunia atau bahkan berkolaborasi dengan musisi jazz internasional.

Mereka antara lain Barry Likumahuwa, Dira Sugandi, Fariz RM, Indra Lesmana, Tesla Manaf, dan Joey Alexander. (*)

Konten Terkait

Pandemi, LIDA 2021 Tetap Lakukan Terobosan Baru

Editor Prosumut.com

Hore…! Film Ultraman Terbaru Segera Dibuat

valdesz

LINE Concert Hibur Pengguna Setia LINE

Val Vasco Venedict